Di ujung tanduk!
Sisa waktuku di SMART tinggal hitungan hari. Berat rasanya harus pergi, padahal dulu hidup di sini serasa beban. Dulu inginnya cepat selesai, sekarang malah minta tambahan waktu.
Sisa waktuku di SMART tinggal hitungan hari. Berat rasanya harus pergi, padahal dulu hidup di sini serasa beban. Dulu inginnya cepat selesai, sekarang malah minta tambahan waktu.
Iya, ingin sekali aku minta tambahan waktu, tapi apa hakku? Ketika dulu aku menganggap SMART sebagai penjara mengerikan, sekarang aku merasa ini 'rumah' yang nyaman. Sebentar lagi lulus... tidak terasa....
Yang kubayangkan, SMART itu seperti ibu hamil, dan aku adalah satu dari 38 janin yang akan segera lahir. Tidak sabar cepat keluar, tapi kalau dipikir lagi, nyaman juga ya di dalam?
Dan apa kata ustazah Dini guruku menanggapi pernyataanku? Sambil tersenyum, beliau berkata,
“Terlalu lama di dalam rahim itu tidak baik, janin bisa mati. Terlalu cepat keluar juga tidak baik, bisa mati juga. Jadi, jalankan sesuai dengan apa yang digariskan-Nya. Nikmati, ikhlaskan, optimis dan berusahalah.”
Ah, benar juga. Memang jatah waktuku cuma lima tahun, dan sejauh ini aku tidak menyesal dengan semua yang telah terjadi.
Kembali aku ingat hari pertama aku menginjakkan kaki di SMART, Rabu 14 Juli 2010 pukul duabelas siang bertepatan dengan azan zuhur, mobil jemputan membawaku dan dua temanku, Farhan yang wajahnya mengingatkanku pada lelaki berandalan alih-alih gammer, dan Fadlillah yang waktu itu gendut dan culun, tapi sekarang sudah jadi 'Dewa”-nya Fisika di angkatanku, serta orangtua kami masing-masing.
Aku juga ingat, awal-awal aku di sini, aku sempat diamanahi ayah dari temanku yang berasal dari salah satu kota penghasil timah, agar menjaga anaknya selama di sini. Padahal besok-besok, anak yang sebenarnya lebih kecil ukuran tubuhnya dariku itu malah amat senang menggangguku. Tidak apa, itu masa lalu, sekarang kami sudah berdamai. Haha.
Sewaktu aku melihat lagi foto atau video ketika kami INDIERS masih kecil-kecil, duh, betapa imutnya!
Ini video kami, lucunyaa....
Aku hampir tidak percaya anak-anak polos dan lucu itu adalah kami. Lucu mengingat dulu temanku pernah dijahili habis-habisan sampai sempat dia pernah lompat dari kasur tingkat ke bawah gara-gara teman-temanku menggoyang-goyangkan ranjang anak Sulawesi itu sambil teriak, “Gempa!! Gempa!!”. Untungnya di dekat ranjangnya ada ranjang tunggal lain, jadi dia tidak langsung jatuh ke lantai. Bisa gawat kalau dia sampai cedera gara-gara itu.
Dan, diantara kepolosan-kepolosan itu, tetap ada saja orang-orang yang “terpaksa” bermusuhan gara-gara masalah sepele seperti aku yang pernah bermusuhan dengan temanku dari Bandung cuma gara-gara rebutan permen (iya, serius lho!). Pernah juga ada yang ingin coba-coba kabur dari SMART dan pulang ke rumah saudaranya di Jakarta karena tidak tahan tinggal di SMART tapi tidak jadi karena baru sampai di Bogor dia hilang nyali. Haha.
Tetap saja, itu hanya masa lalu, yang meski menyedihkan, meski menyebalkan, tetap akan indah ketika dikenang dengan penuh penerimaan. Dia hanya masa lalu, yang tetap akan begitu.
Sekarang kami sudah besar. Sebentar lagi berpisah, yang artinya sudah hampir lima tahun kami bersama-sama. Syukurlah, sekarang tidak ada lagi “musuhan-musuhan” ala anak-anak. Ah, indahnya....
Yang menjadi harapan sekarang adalah, mudah-mudahan angkatan ini tetap solid dan kompak meski nanti kita berpisah.

Komentar
Posting Komentar