Blog AhfieRofi

Catatan AhfieRofi

Masa Lalu Itu


Aku masih terus membuka-buka buku tulis lamaku untuk mencari lembar kosong yang akan kujadikan burung-burungan kertas ketika aku menemukan selembar masa laluku. Sempurna saat itu juga gerakan tanganku terhenti. Mataku terus memandangi lembar itu. Dan pikirankupun melayang ke masa setahun lampau. Entahlah, aku lupa kapan tepatnya. Yang kutahu masa lalu itu selalu membekas.


Malam itu hujan deras mengguyur sepenggal wilayah Bogor. Aku masih menggenggam erat buku tulisku sambil tetap siaga akan gerak gerik mereka berdua. Otakku berpikir cepat bagaimana menyelamatkan buku ini dari mereka. Tepat sepersekian detik sebelum aku mengambil tindakan, kak Rudi langsung sigap merebut buku itu ketika tahu aku mulai lengah. Aku terbengong-bengong, lalu tertawa. Sial! Dia lebih cepat.


“Ahahaha... Ini apa? Lihat ini, Yas!” tunjuk kak Rudi sambil menyodorkan buku itu ke kak Iyas. Tangannya masih menunjuk sesuatu yang dia maksud.

 

"Eh, ini komik apa? Keren juga. Ini lo yang buat?” tanya kak Iyas padaku. Sambil tersenyum, menunjuk gambar yang dimaksud, dia menatap bergantian ke arahku dan ke komik itu. Aku mengangguk sambil menunduk menutupi rasa maluku.


“Ini keren, tahu! Ya kan, Rud?” serunya sambil berpaling ke kak Rudi yang juga masih memperhatikan. Dia hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Uh, lagi-lagi kak Iyas mengatakan itu. 'Keren'. Entah apa yang ada di pikiran mereka saat pertama kali melihat komik pertamaku.


Awalnya aku tidak percaya dengan kata-kata mereka. Mana mungkin komikku itu keren. Memang aku berusaha cukup keras untuk membuat komik strip itu, tapi itu tidak sebanding dengan kemampuan menggambarku waktu itu. Namun sepintas aku melihat ketulusan dari ucapan mereka. Meski hanya sekilas, akhirnya aku tahu mereka tulus mengatakannya. Ya! Kupastikan itu...


∗∗∗

 

Untuk sesaat aku tersadar dari lamunanku. Aku lupa dengan burung kertas itu, sekarang justru aku sibuk memeperhatikan komik strip yang dulu mereka puji. Memang harus kuakui komik itu jelek, tidak seindah yang dipuji kak Iyas dan kak Rudi. Lalu kenapa waktu itu mereka memuji gambarku dan mengatakan gambar itu bagus? Mungkin kau juga akan mengomentari gambarku itu jelek bila kusertakan komik yang kumaksud, makanya tidak kusertakan.


Entahlah. Sampai saat kutulis cerita ini, aku belum tahu pasti kenapa mereka mengatakan itu. Mungkin mereka menghargaiku? Memberiku semangat? Membuatku tetap optimis dan percaya diri? Memberiku semacam sugesti bahwa gambarku memang bagus?


Buktinya saja, waktu itu aku langsung percaya dan berpikir bahwa komik yang kubuat memang bagus seperti kata mereka. Padahal jika aku melihatnya sekarang, sungguh komik strip itu jelek dan tidak sebagus kelihatannya dulu. Ah, tapi setidaknya mungkin dengan ungkapan mereka waktu itu, sampai sekarang aku masih rajin menggambar. Bagaimana jadinya bila waktu itu mereka berkata sejujurnya?

Komentar