Luar biasa!
Sherlock Holmes sekali lagi tampil memukau bersama rekan setianya Dr. John Watson dalam buku "The Game of Two Quests: Sherlock Holmes Vs Arsene Lupin" karya penulis Prancis Maurice Leblance. Lucu juga sih 'menyaksikan' Sherlock Holmes dan Watson dipermainkan pencuri licik Lupin. Tapi kisah yang mempertaruhkan harga diri ini berakhir memuaskan!
Aku senang mengikuti perkembangan kasus-kasus yang ditangani Sherlock Holmes entah itu dari Sir Arthur Conan Doyle sang pencipta tokoh menyejarah itu sendiri, atau dari penulis lain. Sampai-sampai aku pernah merasa menjadi "Sherlock Holmes" muda - atau, yah, bisa juga Shinichi Kudo si Holmes masa Heisei - kalau sudah bertemu 'kasus' aneh.
Seperti ini salah satunya....
***
Suatu pagi di hari Minggu sekitar satu tahun yang lalu, pukul delapan pagi, sinar mentari yang menerobos jendela menerpa permukaan kulitku. Mataku yang (katanya) sipit perlahan terbuka, dan langsung mengerjap-erjap tak tahan langsung menerima kumparan cahaya yang menyeruak masuk.
Sejenak kuedarkan pandanganku ke seisi kamar. Dengan posisi kasur di bagian atas kasur tingkat sebelah pojok kamar di samping jendela, aku bisa melihat dengan jelas seisi kamar. Tapi hei! Aku tidak menemukan jam dinding di dinding kamar sebelah timur! Seharusnya jam itu menggantung dua meter di atas permukaan lantai, tapi sekarang benda itu raib!
*Dan dimulailah Pertunjukan Analisis (KW-an) Sherlock Holmes masa Heisei dari Bandung....
Ketika aku masih sibuk berpikir, pintu kamar terbuka dan temanku Johan yang berperan sebagai Dr. John Watson masuk. Melihat kebingunganku, dia langsung menyadari ada yang salah. Lantas dia menghampiri Tempat Kejadian Perkara. Tak selang beberapa menit dia menghampiriku dan menjelaskan hasil pengamatannya.
"Jam dinding kamar kita jatuh ke lantai. Kacanya pecah dan tidak ditemukan baterai di sekitar situ."
"Hmm... menarik!" gumamku sambil mulai merancang skenario kejadian yang jelas-jelas bukan kecelakaan tak disengaja ini dalam pikiranku.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Watson yang sepertinya tak sabar menunggu analisisku. Aku yang dari tadi duduk menyender tembok sambil memejamkan mata dengan tangan tertelungkup, seketika bangun dalam sekali sentakan.
"Aku mengerti!" pekikku girang.
"Apa?" sela Watson antusias.
"Begini. Kau tahu jam ini tergantung dua meter di atas permukaan lantai. Dan bila pengamatanmu benar, jam itu sekarang kehilangan baterainya. Sedangkan kau juga tahu di asrama ini, ada dua kamar yang jam dindingnya kehabisan baterai. Jadi kemungkinan besar baterai itu diambil oleh satu dari dua kamar yang kita curigai itu!" tuturku.
Watson untuk beberapa saat berusaha mencerna analisisku. Lantas kepalanya mendongak lagi, "Tapi siapa yang tega mengambil baterai jam dinding kita dan untuk apa dia merusak jamnya pula?"
Aku menyeringai, separuh karena ingin menertawakan rekanku yang tampaknya tidak belajar banyak dari pengalaman kami.
"Mudah saja. Coba kau pikir, jam itu digantung dua meter di atas lantai. Jadi pasti orang yang ceroboh menjatuhkan jam itu tidak lain adalah orang yang tingginya kurang dari 150 cm karena pasti orang itu akan menjatuhkan jamnya ketika dia berusaha mengambil benda itu. Coba pikir, siapa yang tingginya kurang dari 150 cm di antara penghuni dua kamar itu?" tanyaku mengakhiri penjelasanku.
Watson berpikir cukup lama *lemot banget nih orang!* sampai dia menjentikkan telunjuk dan ibu jarinya, "Fajar! Pasti Fajar pelakunya!"
"Tepat seka..." belum selesai kalimatku...
"Hai Bro! Sori tadi gue maen bola di kamar ini. Terus ga sengaja bolanya kena jam dinding dan jatuh. Rusak ya jamnya? Haduh. Tapi baterainya udah gue simpan lagi kok di atas lemari itu-" sambil menunjuk lemari di dekat jam yang jatuh "-siapa tau kalian masih butuh..."
Besoknya, "Sherlock Holmes" menyatakan pensiun....
Sherlock Holmes sekali lagi tampil memukau bersama rekan setianya Dr. John Watson dalam buku "The Game of Two Quests: Sherlock Holmes Vs Arsene Lupin" karya penulis Prancis Maurice Leblance. Lucu juga sih 'menyaksikan' Sherlock Holmes dan Watson dipermainkan pencuri licik Lupin. Tapi kisah yang mempertaruhkan harga diri ini berakhir memuaskan!
Aku senang mengikuti perkembangan kasus-kasus yang ditangani Sherlock Holmes entah itu dari Sir Arthur Conan Doyle sang pencipta tokoh menyejarah itu sendiri, atau dari penulis lain. Sampai-sampai aku pernah merasa menjadi "Sherlock Holmes" muda - atau, yah, bisa juga Shinichi Kudo si Holmes masa Heisei - kalau sudah bertemu 'kasus' aneh.
Seperti ini salah satunya....
***
Suatu pagi di hari Minggu sekitar satu tahun yang lalu, pukul delapan pagi, sinar mentari yang menerobos jendela menerpa permukaan kulitku. Mataku yang (katanya) sipit perlahan terbuka, dan langsung mengerjap-erjap tak tahan langsung menerima kumparan cahaya yang menyeruak masuk.
Sejenak kuedarkan pandanganku ke seisi kamar. Dengan posisi kasur di bagian atas kasur tingkat sebelah pojok kamar di samping jendela, aku bisa melihat dengan jelas seisi kamar. Tapi hei! Aku tidak menemukan jam dinding di dinding kamar sebelah timur! Seharusnya jam itu menggantung dua meter di atas permukaan lantai, tapi sekarang benda itu raib!
*Dan dimulailah Pertunjukan Analisis (KW-an) Sherlock Holmes masa Heisei dari Bandung....
Ketika aku masih sibuk berpikir, pintu kamar terbuka dan temanku Johan yang berperan sebagai Dr. John Watson masuk. Melihat kebingunganku, dia langsung menyadari ada yang salah. Lantas dia menghampiri Tempat Kejadian Perkara. Tak selang beberapa menit dia menghampiriku dan menjelaskan hasil pengamatannya.
"Jam dinding kamar kita jatuh ke lantai. Kacanya pecah dan tidak ditemukan baterai di sekitar situ."
"Hmm... menarik!" gumamku sambil mulai merancang skenario kejadian yang jelas-jelas bukan kecelakaan tak disengaja ini dalam pikiranku.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Watson yang sepertinya tak sabar menunggu analisisku. Aku yang dari tadi duduk menyender tembok sambil memejamkan mata dengan tangan tertelungkup, seketika bangun dalam sekali sentakan.
"Aku mengerti!" pekikku girang.
"Apa?" sela Watson antusias.
"Begini. Kau tahu jam ini tergantung dua meter di atas permukaan lantai. Dan bila pengamatanmu benar, jam itu sekarang kehilangan baterainya. Sedangkan kau juga tahu di asrama ini, ada dua kamar yang jam dindingnya kehabisan baterai. Jadi kemungkinan besar baterai itu diambil oleh satu dari dua kamar yang kita curigai itu!" tuturku.
Watson untuk beberapa saat berusaha mencerna analisisku. Lantas kepalanya mendongak lagi, "Tapi siapa yang tega mengambil baterai jam dinding kita dan untuk apa dia merusak jamnya pula?"
Aku menyeringai, separuh karena ingin menertawakan rekanku yang tampaknya tidak belajar banyak dari pengalaman kami.
"Mudah saja. Coba kau pikir, jam itu digantung dua meter di atas lantai. Jadi pasti orang yang ceroboh menjatuhkan jam itu tidak lain adalah orang yang tingginya kurang dari 150 cm karena pasti orang itu akan menjatuhkan jamnya ketika dia berusaha mengambil benda itu. Coba pikir, siapa yang tingginya kurang dari 150 cm di antara penghuni dua kamar itu?" tanyaku mengakhiri penjelasanku.
Watson berpikir cukup lama *lemot banget nih orang!* sampai dia menjentikkan telunjuk dan ibu jarinya, "Fajar! Pasti Fajar pelakunya!"
"Tepat seka..." belum selesai kalimatku...
"Hai Bro! Sori tadi gue maen bola di kamar ini. Terus ga sengaja bolanya kena jam dinding dan jatuh. Rusak ya jamnya? Haduh. Tapi baterainya udah gue simpan lagi kok di atas lemari itu-" sambil menunjuk lemari di dekat jam yang jatuh "-siapa tau kalian masih butuh..."
Besoknya, "Sherlock Holmes" menyatakan pensiun....

Komentar
Posting Komentar