Blog AhfieRofi

Catatan AhfieRofi

Kisah Gadis dan Pemuda Tampan


Ada sebuah kisah cantik yang dikisahkan kembali oleh Ust. Salim A. Fillah dalam bukunya, Jalan Cinta Para Pejuang.

Ini adalah kisah tentang seorang gadis cantik, bunga kota yang harumnya semerbak hingga negeri-negeri tetangga. Meski begitu, tidak banyak yang pernah melihat wajahnya, lebih sedikit lagi yang pernah mendengar suaranya, dan bisa dihitung jari orang yang pernah berurusan dengannya.

Seperti sewajarnya, sang gadis juga memendam cinta, yang anehnya tumbuh kepada seorang pemuda yang belum pernah ia lihat wajahnya, bahkan tergambar wujudnya dalam benak pun belum. Dia hanya tahu dari cerita yang beredar tentang pemuda itu, yang katanya tampan bagai Nabi Yusuf pada zamannya, tentang akhlaknya yang suci, ilmunya yang tinggi, dan kebaikannya yang membuat iri. Namanya sering muncul dalam pembicaraan  dan doa para ibu yang merindukan menantu.

Pada suatu hari, sang pemuda tampan bagai malaikat itu datang berkunjung ke kota untuk sebuah urusan. Tak kuat memendam rindu yang bak sembilu, sang gadis memutuskan mengirim surat kepada sang pemuda meminta bertemu. Sang pemuda membalas 'ya'.

Akhirnya, bertemulah mereka di tempat yang telah disepakati, hanya berdua. Duhai, betapa gugup sang gadis menghadapi pemuda itu. Apalagi pemuda itu ternyata jauh lebih sempurna dari omongan para tetangga. Mulai dari posturnya yang tegap gagah, senyumnya yang lembut dan menawan, dan suaranya yang lirih merdu serta akhlaknya yang santun.

Sang gadis berkeringat dingin. Sejak tadi mereka hanya diam setelah saling menyapa singkat. Setelah lama tiada kata, sang gadis memberanikan diri berbicara.

“Maha Suci Allah,” katanya, “yang telah menganugerahi engkau wajah yang begitu tampan.”

“Andai saja kaulihat aku,” balas sang pemuda sambil tersenyum dan menundukkan kepala, “sesudah tiga hari dikuburkan. Ketika cacing berpesta membusukkannya. Ketika ulat-ulat bersarang di mata. Ketika hancur wajah menjadi busuk bernanah. Anugerah ini begitu sementara. Janganlah kau tertipu olehnya.”

“Betapa inginnya aku,” kata sang gadis lagi, “meletakkan jemariku dalam genggaman tanganmu.”

Sang pemuda berkeringat dingin mendengarnya. Ia menjawab sambil tetap menunduk memejamkan mata, “Tak kurang inginnya aku berbuat lebih dari itu. Tetapi coba bayangkan, kulit kita adalah api neraka, yang satu bagi yang lainnya. Tak berhak saling disentuhkan, karena di akhirat kelah akan menjadi rasa sakit dan penyesalah tak berkesudahan.”

Si gadis ikut tertunduk. “Tapi tahukah engkau, telah lama aku dilanda rindu, takut, dan sedih. Telah lama aku merindukan saat aku bisa meletakkan kepalaku di dadamu yang berdegub. Agar berkurang beban-beban. Agar Allah menghapus kesempitan dan kesusahan.”

Si pemuda menjawab, “Jangan lakukan itu kecuali dengan yang haknya. Sungguh kawan-kawan akrab pada hari kiamat satu sama lain akan menjadi seteru, kecuali mereka yang bertakwa.”

***

Jika kita amati sekilas, betapa indah pemuda ini menuntun si gadis menghayati kesucian dan ketakwaan kepada Allah. Usahanya mengatasi segala pujian dan 'kode' dari sang gadis.

“Tapi dalam kisah indah ini kita tanpa sadar melupakan satu hal, bahwa sang pemud dan gadis melakukan pelanggaran syariat,” ujar Syekh Abdullah Nashih 'Ulwan yang juga menuturkan cerita ini dalam Taujih Ruhiyyahnya mengomentari cerita ini.

“Bahwa sang pemuda mencampur adukkan kebenaran dan kebatilan. Bahwa ia meniupkan napas dakwah dalam atmosfer yang ternoda. Dan dampaknya bisa kita lihat dalam kisah: sang gadis sama sekali tidak mengindahkan dakwahnya. Bahkan ia makin berani dalam kata-katanya, mengajukan permintaan-permintaan yang makin tinggi bahayanya dalam pandangan syariat Allah. Kesalahan itu telah terjadi sejak awal: mereka berkhalwat! Mereka tidak mengindahkan perintah syariat dan pesan Sang Nabi tentang hal yang satu ini.”

***

Seperti kata Ust. Salim A. Fillah,

Janganlah kalian akrab bagai api dan kayu. Merasa saling menghagatkan, tapi  tiada yang tersisa selain abu dan debu. Janganlah kalian seperti awan dan hujan. Merasa hiasi langit suburkan bumi, tapi hakikatnya saling meniadai.


Wallahu a'lam. Boleh jadi kita memiliki niat baik menasehati, memiliki tujuan baik menyerukan Islam pada sahabat kita. Tapi karena kesalahan kita dalam memilih momentum dan cara mengungkapkannya, justru siksa-Nya yang menjadi imbalan bagi kita—alih-alih ridha dan kebaikan seperti yang kita harapkan. Naudzubillah tsumma naudzubillah.

Komentar