Lama sekali aku tidak mengisi blog ini. Entahlah, akhir-akhir ini aku benar-benar sibuk mengurusi pendaftaran untuk kuliah dan sekarang sibuk dengan tugas pra-PPSMB. Sekarang alhamdulillah aku sudah diterima di Universitas Gadjah Mada jurusan Sastra Arab. Doakan saja mudah-mudahan Allah mempermudah dan memperlancar segala urusan kita
Sebenarnya sekarangpun aku masih belum selesai dengan tugas kuliah, tapi aku tidak tahan untuk tidak menceritakan ini padamu.
Semua bermula ketika aku dan Juno berniat mengunjungi bukit Tidar. Bagiku yang asli Bandung dan baru sekarang main ke Magelang, bukit ini terasa istimewa karena puncaknya merupakan titik tengah pulau Jawa. Menurut penuturan Juno, di sana juga ada makam Syekh Subakir, seorang ulama zaman Khilafah Utsmaniyah yang berjasa membuka kemudahan penyebaran ajaran Islam di Jawa. Selain itu, Juno juga memberitahuku bahwa di Bukit Tidar aku bisa bertemu kawanan monyet hutan yang bebas berkeliaran.
Kami sepakat mengunjungi bukit itu siang ini setelah menyelesaikan urusan kami di UGM. Dengan hanya berbekal sebotol minuman, kami mulai menyusuri tangga ke arah puncak bukit. Karena puncaknya hanya 100 meter di atas daratan kota Magelang, kita tidak memerlukan tenaga yang banyak untuk tiba di sana.
Singkat cerita kami tiba di puncak Tidar. Tempat itu merupakan lapangan yang cukup luas. Di satu titik ada sebuah tugu setinggi dua meter yang merupakan penanda titik tengah pulau Jawa. Dua sampai tiga puluh meter dari sana menjulang tinggi bangunan seperti tiang mercusuar yang merupakan tugu yang dibuat oleh tentara zaman dulu.
Tapi yang mengecewakan, sedari tadi aku tidak menemukan monyet-monyet itu. Sebenarnya tujuan utama kami datang ke sini adalah untuk melihat monyet-monyet itu. Tapi nampaknya kami belum beruntung kali ini. Jangankan wujudnya, suaranya saja tidak kami dapati.
Dengan langkah lesu, kami berdua berjalan pulang, menapaki satu demi satu anak tangga yang kami lewati satu jam yang lalu.
Kami sudah hampir tiba di kaki bukit ketika aku melihat sesosok mamalia hutan memanjati pohon. Di perutnya menggelayut manja bayi mamalia itu.
"Johan! Itu monyetnya!"
Aku berseru sambil menjaga volume suaraku. Juno gesit mengambil kamera dari ransel dan mulai menjepret.
Benar kata Juno, banyak sekali monyet disini. Aku melihat beberapa monyet berlari di permukaan hutan yang dipenuhi daun-daun kering, ada monyet yang memanjat pohon sendiri, ada induk monyet yang tetap lincah bergerak meski di perutnya menggelayut sang bayi monyet.
"Di sini kejauhan. Kita ke sebelah sana yuk!" ajakku yang masih norak bertemu monyet-monyet liar ini. Juno yang sudah dua kali ke sini tentu sudah biasa, dia tidak terlalu antusias tampaknya.
Tapi dia ikut setelah kupaksa. Kami berjalan lagi, terus mendekat ke kerumunan monyet itu. Waktu itu aku tidak sempat memikirkan berbagai kemungkinan buruk yang dapat terjadi bila aku terlalu dekat dengan mereka. Aku terlalu bernafsu untuk mendekati mereka sedekat-dekatnya.
Kami mengikuti mereka cukup jauh naik ke atas bukit. Sambil memfoto, aku memerhatikan ke belakang. Barulah aku sadar, ada monyet yang mengikuti kami sambil antusias menatap kami!
"Johan! Mampus kita! Monyetnya ngikutin!"
Juno seperti biasa saja. Dia lihat ke belakang dan memang ada satu monyet yang mengikuti kami.
"Yaudah, pulang aja yuk!"
Dan kami pun menuruni bukit lagi. Gerbang batas kaki bukit tinggal sepuluh sampai duapuluh meter lagi. Tapi serasa amat jauh, karena sekarang, satu persatu monyet-monyet itu memerhatikan kami.
"Johan! Mereka ngikutin kita!"
Aku mulai panik. Tanganku erat mencengkeram jaket Juno. Satu monyet mulai berani mendekati kakiku, tampaknya dia makin tertarik menggodaku yang sudah terlihat ketakutan setengah mati.
"Hush! Hush!"
Aku mengibaskan kakiku dengan putus asa. Aku yakin sekali wajahku pucat waktu itu, otot-otot mukaku menegang, seluruh sendi tangan dan kakiku gemetaran.
Monyet itu menjauh setelah kuusir dengan kakiku. Tapi tak lama kemudian monyet lain ikut mendekat. Juno diam saja sambil terus berjalan. Meski begitu, aku yakin Juno juga ketakutan, tapi mungkin dia sudah pernah mengalami ini.
Tanganku makin erat mencengkeram jaket Juno sampai-sampai dia agak risi, "Udah lepas sih, susah nih jalannya!" tapi aku tidak mengendurkan cengkeramanku.
Lambat sekali kami menuruni tangga. Aku terus mengibaskan kakiku tiap kali ada monyet yang mendekat. Mereka bertampang mengerikan, gigi-giginya tajam, taringnya panjang. Aku sempat berpikir untuk lari saja. Tapi pasti itu hanya akan membuat mereka makin senang. Jelas mereka jauh lebih cepat dariku. Sekali lompat, matilah sudah!
Situasi ini amat menyebalkan, meski bila diingat-ingat lagi terasa lucu.
Aku yang masih pucat dan tegang terus menuruni tangga sambil menghentak-hentakkan kaki dan ber "hush-hush" untuk menakuti monyet-monyet itu, sementara Juno yang (sok) santai mengikutiku di belakang.
Tidak sampai satu menit sebenarnya untuk menuruni tangga itu, tapi rasa takut justru membuatnya terasa seperti berjam-jam. Hingga kami tiba di kaki bukit dan keluar dari kawasan para monyet, kakiku masih gemetar. aku yakin wajahku amat tegang saat itu. Dan yang lebih membuatku kesal, Juno di sampingku tampak biasa saja. Ah, aku yakin sebenarnya dia pun ketakutan!
Sampai saat ini aku masih belum bisa melupakan kejadian mengerikan itu. Iya iya, sebenarnya itu tampak sangat konyol. Aku juga menganggapnya begitu. Tapi jika kau mengalaminya sendiri, mungkin akan lain ceritanya.




Komentar
Posting Komentar