Terhitung sejak 26 Juli, berarti sudah dua bulan lebih aku menetap
di Yogyakarta untuk keperluan studi program sarjana di UGM. Itu juga berarti sudah
satu bulan lebih aku menjalani aktivitas perkuliahan terhitung sejak tanggal 1 September
hari pertama dimulainya aktivitas perkuliahan di dalam kelas.
Kautahu? Selama itu aku tidak menemukan “semangat mempelajari
bahasa Al-Quran” yang dulu kuelu-elukan sebagai spirit utamaku masuk jurusan Sastra
Arab. Maksudku, dulu aku tampak semangat sekali ingin masuk prodi ini. Aku dapat
menjawab dengan cukup percaya diri setiap kali ada yang meragukan pilihanku. “Aku
ingin mempelajari Bahasa Arab, aku ingin bisa lebih memahami Al-Quran dan
kitab-kitab berbahasa Arab yang ada di rumahku. Dan aku ingin menjadi seorang Da’i,”
begitu tegasku.
Tapi Ya Tuhan! Aku seperti kehilangan semangat itu sekarang!
Jangan beri tahu siapa-siapa, aku sering menghabiskan sebagian
besar jam mata kuliah Telaah Teks Arab dengan tidur atau ber-ig ria. Aku lebih
memilih tidur di mata kuliah Dasar-dasar Ilmu Budaya karena jamnya siang dan
dosennya membosankan. Aku juga tidak begitu antusias mengikuti mata kuliah
Percakapan Bahasa Arab mengingat di kelas itu tampaknya hanya segelintir orang
yang belum banyak menguasai Bahasa Arab terutama grammarnya yang jelas sangat
penting di mata kuliah ini. Dan lagi, aku termasuk dalam segelintir orang itu.
Sekarang sudah masuk bulan Oktober. Tinggal hitungan hari kampus
memasuki pekan Ujian Tengah Semester. Sekarang, barulah aku sadar betapa aku
terlalu banyak main-main selama ini. Aku harap aku hanya kurang serius dan
bukannya bodoh. Tapi jujur, baru satu bulan aku sudah penat membayangkan betapa
banyak kosakata yang harus kuhapal untuk bisa terus mengikuti perkembangan
kelas.
Pada akhirnya, aku kembali merenung. Ya, seperti kebiasaanku
setiap kali mulai merasa hambar dengan rutinitasku.
Pagi bangun kesiangan, salat subuh lalu ikut kajian pagi di
asrama. Setengah tujuh berangkat kuliah tanpa sarapan, tiba di kampus kumpul
bersama teman, masuk kelas, main hp atau bercanda dengan teman di barisan
belakang kelas sementara dosen mengajar, keluar kelas, nongkrong di pelataran
kampus, masuk kelas lagi hanya untuk tidur, lalu pulang, makan, malamnya ikut
berbagai rutinitas asrama seperti pembersihan asrama, ibadah hatim dan
sebagainya, main hp hingga larut malam baru tidur, bangun kesiangan, dan begitu
seterusnya.
Hingga hari Senin sore kemarin, aku mengikuti mentoring kelompok
di fakultas. Dan entah bagaimana caranya, waktu itu kakak mentor membawa kami ke
dalam diskusi hangat mengenai cara survive di kampus. Pada satu saat, dia
berkata seperti ini.
“Kalau kalian merasa kehilangan pijakan, merasa hambar dan tidak
bersemangat, perlu direnungkan lagi niat kalian…”
Sampai di situ aku tidak lagi mendengarkan penuturan kakak mentor.
Cukup kalimat itu saja sudah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padaku.
Niat.
Sebenarnya aku sudah sering mendengar kalimat serupa yang
diucapkan kakak mentorku itu. Hanya saja kalimat-kalimat itu seperti masuk
telinga kanan keluar telinga kiri. Sampai pada waktunya dibutuhkan, barulah aku
lupa dengan kalimat itu.
Lewat mentoring itu, aku menemukan jawaban dari masalahku yang
sebenarnya simpel, tapi sulit. Niat.
Sampai di sini, aku merasa perlu mempebaiki niatku. Iya. Mudah-mudahan
saja berhasil. Mudah-mudahan aku tidak hanya lulus sebagai sarjana bergelar
cumlaude (aamiin), tapi juga sarjana yang punya masa depan cerah. Aku hanya
tinggal fokus, tahu tujuanku. Ya, kira-kira begitu.

Komentar
Posting Komentar