Blog AhfieRofi

Catatan AhfieRofi

Aku dan... #5. Buku Harianku

Aku ingat sekali, malam sebelum aku berangkat ke Bogor untuk melanjutkan studiku ke jenjang SMP, ayah memberikan

sebuah buku catatan kecil. Di halaman paling belakang, dia menulis pesan-pesan untukku agar aku tetap menjaga ibadah dan perilaku baikku nanti di tempat baruku. Kemudian, sambil menyerahkan buku itu kepadaku, ayah berpesan untuk meluangkan waktu menuliskan kegiatan sehari-hariku di sana ke dalam buku itu.

Sepertinya untuk pesan terakhir aku benar-benar mengikuti apa yang dikatakan ayahku. Aku mulai rajin menuliskan kegiatan sehari-hariku, pengalaman pertama tinggal jauh dari keluarga, pengalaman pertama jalan-jalan ke mana, dan sebagainya. Lima tahun, buku harian menjadi salah satu sahabat terbaik yang selalu menemaniku. Menjadi "pendengar" setiaku.

Aku dan Buku Harianku.

 

Lima tahun. Bukan berarti hari-hari itu selalu diisi dengan keriangan dan kesenangan saja. Malah sepertinya lebih banyak kesedihan yang kurasakan disana. Dua tahun pertama hidup di sekolah berasrama menjadi waktu-waktu terberatku. Dua tahun itu aku bahkan belum bisa beradaptasi dengan baik. Aku ingat waktu kelas satu aku benar-benar menjadi anak yang penyendiri. Selalu berjalan dengan wajah murung, tatapan tertunduk. Aku juga bukan anak yang aktif di kelas. Sedikit hal yang banyak menghiburku waktu itu hanya Kak Iyas dan Kak Rudi serta buku harianku. Juga satu teman dari angkatanku bernama Johan, yang selalu membersamaiku dari kelas satu SMP hingga sekarang kami menjadi mahasiswa di kampus yang sama, kampus tercinta Universitas Gadjah Mada. ^^

Di tahun pertama itu, buku harianku benar-benar penuh berisi curhatan-curhatan ala anak kecil. Begitu cengeng. Lemah. Pesimis. Rasanya seolah-olah aku adalah orang paling menderita sejagat raya. Begitu menyedihkan. Meski, beberapa tahun kemudian aku sering menertawakan tulisan-tulisan itu. Aku lupa, dulu aku menulisnya dengan susah payah menahan airmata kesedihan. Haha, mungkin seperti itu juga lah ekspresi kebanyakan orang yang membaca buku itu. Mereka tidak tahu rasanya, maka mungkin tulisan-tulisan itu akan terlihat lucu dan konyol.

Tahun kedua, buku diariku kebanyakan berisi catatan kesedihan mengenai jeleknya nilaiku, sulitnya mengikuti pelajaran, dan sebagainya. Beberapa tulisan juga berisi keluhan, kekhawatiran, mengenai dua kakakku yang sebentar lagi akan lulus. Belum lagi, di tahun kedua itu kami bertiga semakin jarang menghabiskan waktu bersama. Mereka mulai harus serius mengikuti pelajaran. Malahan, setiap kami bertemu entah di masjid atau di kantin pun mereka selalu membawa buku pemantapan. Diskusi pun selalu tidak lepas dari soal dan soal. Terkadang aku muak, kesal, dan juga cemburu. Tapi mau bagaimana lagi. Kalau mereka tidak serius bisa fatal ke depannya. Tapi waktu itu sepertinya aku sulit mentoleransi hal itu.

Komentar