Pernah
dengar permainan Mafia atau Werewolf?
Untuk
lebih jelasnya kau bisa mencarinya di internet, tapi singkatnya, permainan ini
adalah permainan adu argumen dan strategi yang dilakukan minimal tujuh orang.
Semakin banyak akan semakin menarik. Dalam permainan ini setiap orang akan
diberi peran yang berbeda dan harus dirahasiakan dari pemain lain kecuali dari
Tuhan/Moderator yang memang tidak masuk dalam permainan. Permainan ini berkisah
tentang sebuah pedesaan yang berisi penduduk, bodyguard,
cenayang, dan manusia serigala. Nantinya setiap pemain harus menebak siapa yang
berperan sebagai serigala dan membunuhnya sebelum dia membunuh seluruh warga
desa.
Aku
juga baru kenal permainan ini pagi tadi. Aku sedang asyik bermain hp sendirian
di ruang tamu ketika temanku Vowas menarikku ke ruang belajar di lantai dua.
Katanya dia punya permainan menarik namanya Werewolf. Aku kira itu semacam
pertarungan antar siluman di laptop. Tapi katanya dia butuh tujuh orang. Karena
dia memaksa terpaksa aku ikut.
Tiba
di ruang belajar sudah ada Muja yang sedang mengerjakan makalah, Ramda yang
tampak sedang terburu-buru ada acara di luar tapi dipaksa Vowas untuk ikut
permainan. Ada pula Susi (Laki-laki) yang sedang bermain game di laptop, Dul
yang baru datang, tingkahnya polos ala santri baru karena dia baru di asrama ini.
Dan terakhir ada Budi yang juga baru datang.
Setelah
semua berkumpul, Vowas menjelaskan teknis permainan lebih lengkap dari
penjelasanku tadi. Tapi kurasa semuanya tampak terpaksa mengikuti permainan
ini. Sepertinya hanya aku satu-satunya yang tertarik di sini.
Akhirnya
dimulailah permainan. Setiap orang diberi kartu berisi peran yang akan
dimainkan. Kemudian Vowas yang berperan sebagai Tuhan atau Moderator memulai
dengan, "Malam sudah gelap. Semua warga kembali ke rumah dan
beristirahat."
Lalu
semuanya memejamkan mata. Kemudian Vowas menyebutkan satu persatu pemeran, dan
setiap pemeran yang dipanggil namanya akan membuka mata tanpa bersuara agar
Vowas tahu siapa yang berperan sebagai apa.
"Villager (penduduk) buka mata kalian,"
"Seer (cenayang) buka mata,"
"Bodyguard buka
mata,"
"Werewolf silakan
buka mata."
Lalu,
setelah Vowas tahu semuanya, dia menjelaskan bahwa sudah waktunya membuka mata.
Nah,
pada sesi ini, setiap pemain harus memberikan argumen sekreatif mungkin
sekalipun dengan berbohong agar tidak ada yang tahu dia berperan sebagai apa.
Misalnya werewolf berargumen
bahwa dia adalah tokoh penting di desa ini dan tidak boleh ada yang membunuh
dia. Atau dia juga bisa menuduh pemain lain werewolf agar
seluruh penduduk desa sepakat membunuhnya.
Di
sini, terlihatlah siapa yang pandai dan tidak pandai berargumen. Terlihat pula
siapa yang pandai dan tidak pandai berbohong dan meyakinkan orang lain.
Tapi,
semuanya tidak bereaksi seperti semestinya. Tidak ada yang mau angkat bicara.
Sepertinya tidak ada yang tahu harus mengatakan apa, atau mungkin tidak
tertarik. Vowas mencoba meminta pendapat Ramda.
“Ramda,
menurutmu siapa yang harus dibunuh?”
“Bentar,
kalo udah ada yang dibunuh, terus gimana?”
“Ya
berarti yang dibunuh itu udah keluar dari permainan.”
“Kalo
gitu ya aku aja yang harus dibunuh.”
“Loh
kenapa kamu harus dibunuh?”
“Ya
soalnya aku buru-buru harus pergi.”
“…”
“Mmm…
Menurutku Susi yang harus dibunuh,” ujar Budi setelah senyap beberapa saat.
“Loh
kok aku? Aku penting buat desa ini. Aku bisa menyelamatkan semuanya!” bantah Susi sambil tidak melepaskan tatapannya
dari layar laptopnya.
“Iya. Susi, kamu pantas dibunuh!” kataku menimpali, “Soalnya
kamu dari tadi diem doang. Sok polos. Pasti kamu diem biar gaada yang curiga
sama kamu. Iya, kamu pasti werewolf.”
Vowas menengahi, “Mmm.. Oke. Dul, menurutmu siapa yang
harus dibunuh? Kamu doang yang belum bicara dari tadi.”
“He.. He.. Manut (ikut) aja aku.. ^^”
“YEEE... JANGAN GITULAAAHHH!!”
“Yaudah, sepakat nih Susi yang harus dibunuh?”
“...”
Semuanya diam, bahkan Susi yang nasibnya diujung tanduk saja tidak berusaha melawan seperti serigala yang pasrah
“Oke Susi, karena semua sepakat kamu yang harus dibunuh,
maka kamu mati. Dan sayangnya, Susi ini ternyata satu satunya werewolf
di desa kita. Jadi... Permainan selesai.”
Vowas menutup permainan dengan tepuk tangan diiringi
seruan “Yee..” dan “Hore..” yang garing banget dari semua orang di ruang
belajar itu.
“Ah, gak seru langsung selesai permainannya. Lagian werewolf-nya
satu doang,” komentar Muja kepada kami.
“Yaudah, mau main lagi gak nih?” tanya Vowas.
“NGGAAKKK!!”
Kali ini semuanya serempak menjawab kompak dan semangat
kecuali aku... -_-
***
Intinya dari permainan ini, kita dituntut untuk bisa
meyakinkan orang lain mengenai argumen kita. Meski berbohong bukan bagian dari
hikmah yang dapat kita ambil. Kurasa permainan ini juga berguna untuk
mengalihkan sejenak perhatian kita dari gadget kita. Selain itu juga dapat
mengasah kemampuan kita berbicara di depan umum. Meski, kali pertama tidaklah
selalu mulus seperti tadi. Membosankan sekali yang tadi itu haha.

peak, pake bunuh diri segala :v
BalasHapuskapan2 maen yok!!! :)
Harus rame ramr john. Sama anak bul yuk wkwkwk
Hapus