Aku ingin bercerita tentang pernikahan kami. Fase pernikahanku diawali dan diiringi dengan berbagai kekhawatiran (makanya kubuat seri postingan ini dengan judul "Khawatir", hehe). Kira-kira begini ceritanya.
Maret 2020, aku mengutarakan niatku untuk kesekian kalinya pada Babeh. Aku ingin menikah. Sebelum-sebelumnya, setiap kali aku bertanya kapan aku boleh menikah, Babeh selalu menjawab, "Nanti, usia 25 kamu nikah. Jangan kelamaan, jangan kecepetan." Jawaban ini tentu jauh di luar rencanaku. Targetku menikah usia 20 tahun. Tapi aku nggak berhenti, lulus kuliah aku kembali bertanya diiringi candaan, kapan aku boleh menikah. Kali itu babeh menjawab, "Nanti, kerja dulu, nabung dulu."Akhirnya Maret 2020, 3 bulan seusai lulus kuliah, aku kembali bertanya pada babeh. Kali ini, Babeh nggak langsung menjawab. Babeh bertanya, "Kamu udah siap nikah? Kan belum kerja?" (persisnya nggak seperti ini, aku bahkan lupa gimana persisnya, hehe. Tapi kurang lebih seperti ini).
"Rofi udah berusaha cari kerja selama 3 bulan ini Beh, alhamdulillah kemarin sempat keterima di penerbit muslim besar di Jogja, tapi nggak jadi diambil karena jauh. Insyaallah, mudah-mudahan nanti habis khitbah ada jalannya Rofi diterima kerja jadi udah nikah dapat kerja," jawabku tanpa ragu.
"Oke, terus kalau ternyata belum dapat juga? Gimana? Sementara Rofi harus tahu biaya nikah itu nggak murah. Buat ini segini, buat itu segitu, kasih kesana segini, kasih kesini segitu, simpan segini buat ini (Babeh menyebutkan rincian alokasi dana dan nominalnya yang aku lupa berapa, tapi cukup membuatku ciut)," Babeh kembali bertanya, "Rofi siap?"
Aku berpikir sebentar. Lalu, sambil meyakinkan diriku sendiri, aku kembali meyakinkan babeh dengan suara agak serak tercekat (beneran lho ini, karena waktu itu aku benar-benar ingin menikah tapi merasa nyesek dan ciut ketika keinginan itu terbentur realita :') ), "Tapi beh, Rofi bener-bener pengen nikah. Rofi belum siap uangnya sekarang, tapi Rofi berharap 3 bulan lagi dapat kerja dan bisa nabung, entah dapatnya berapa, nanti disesuaikan aja biayanya."
Babeh nggak langsung menjawab. Sepertinya memikirkan beberapa hal. Aku juga yakin ini bukan perkara mudah buat Babeh. Kami bukan keluarga berada yang bisa dengan mudah mengucurkan uang dengan jumlah besar. Selain itu, ini bakal jadi pengalaman pertama babeh menikahkan anaknya. Pada akhirnya, Babeh mengeluarkan kalimat pamungkasnya, "Oke deh, bismillah. Kalau nanti seandainya uang belum cukup, Babeh coba cari pinjaman. Kapan mau ke rumahnya?"
Sampai di situ rasanya makin nyesek. Babeh mau pinjam uang buat pernikahanku? :'
Aku biasanya mudah pesimis dan minder. Tapi kali itu aku berusaha meyakinkan diriku bahwa insyaallah Allah mudahkan, insyaallah Allah bantu, Allah beri jalan. Aku cukup berusaha semampuku untuk menunjukkan keseriusanku, sisanya Allah yang Maha Kuasa. Dan aku berjanji aku akan menikah tanpa harus membuat Babeh pinjam uang.
"Lusa gimana? Siap?" Babeh bertanya lagi. Lusa? Gercep banget!
"Insyaallah Beh, nanti Rofi kabari dulu."
Dimulailah proses menuju fase baru kehidupanku.
Malam itu tiba. Selepas Maghrib, Aku, Babeh, Ngkis adik tertuaku, Cindia adik terkecilku, dan wa A'an kakak Babeh berangkat ke rumah calon mertuaku. Waktu itu hujan turun tidak terlalu besar tapi awet. Kami ke sana dengan taksi online. Sepanjang jalan aku banyak diam, berusaha mencerna banyak hal yang sudah terjadi, dan menduga-duga apa yang akan terjadi setelah ini. Sesampainya di sana, kami bercakap-cakap ringan sambil makan malam bersama, lalu mengutarakan niat kami. Alhamdulillah, orangtuanya menyambut dan mengamini niat baik kami.
===============
Malam itu menjadi malam yang amat istimewa buatku. Kali pertama aku memberikan cincin untuk orang lain sebagai tanda aku sudah mengkhitbahnya. Malam itu aku senang, tapi juga khawatir. Dengan khitbah ini, berarti aku sudah selangkah lebih dekat menuju fase berikutnya: fase pernikahan. Aku nggak bisa mundur lagi setelah ini.
Pulang ke rumah, semakin berkecamuk pikiranku. Aku takut langkahku salah. Aku takut ini bukan waktu yang tepat. Aku takut aku terlalu terburu-buru. Babeh benar. Aku belum punya pekerjaan tetap, aku belum punya tabungan yang cukup, apa aku memang sudah siap? Aku benar-benar khawatir. Bagaimana kalau tiga bulan lagi aku belum dapat kerja? Bagaimana kalau mereka mendesakku menikah sementara aku belum punya kerja? Memangnya cukup hanya mengandalkan bayaran orderan yang nggak tentu kapan dan berapa dapatnya? Bagaimana kalau Babeh harus cari pinjaman sana sini demi pernikahanku? Bagaimana kalau?
Lalu aku mengingat kembali apa alasanku ingin menikah. Jika cukup hanya agar punya istri, agar naik status, agar nggak jomblo lagi, seharusnya aku menunggu sampai keuanganku stabil, pekerjaanku jelas. jika cukup hanya agar bisa bahagia setelah menikah karena semuanya dilewati berdua, secara logika bagaimana aku bisa bahagia dengan segala ketidakpastian nanti kalau aku menikah sebelum bekerja? Lalu untuk apa?
Tentu, aku khawatir dengan pekerjaan dan penghasilanku yang belum jelas. Tapi semua kekhawatiran itu seakan hilang ketika aku memikirkan bagaimana kesudahanku setelah ini. Aku ingin menikah agar bisa membuka banyak pintu ibadah yang bisa kulakukan hanya setelah menikah. Aku ingin menikah agar semoga dengannya bisa menutup banyak pintu dosa yang bisa kulakukan jika aku menunda pernikahanku.
Apa aku sudah siap?
Seringkali pertanyaan ini sulit dijawab. Meskipun tentu saja aku sudah membaca banyak buku pernikahan. Aku sudah menyimak banyak kajian pernikahan. Aku sudah berkali-kali mengingatkan diri bahwa menikah bukan perkara remeh dan mudah. Bahkan, ia adalah perjanjian agung yang Allah setarakan dengan perjanjian-Nya dengan Bani Israil dan dengan para nabi pilihan-Nya: Mitsaqan ghalidza. Aku juga tentu sudah menyiapkan beberapa rencana karir dan menyisihkan tabungan semampuku.
Tapi apa aku sudah benar-benar siap?
Kiranya, kita baru bisa menilai kita sudah siap atau belum, ketika kita menjalaninya. Karena sematang apapun persiapan kita, pada akhirnya kita tidak bisa mengetahui seberapa siap kita sampai waktu itu tiba. Maka yang bisa kita lakukan selagi masanya belum tiba adalah mempersiapkan sebaik-baiknya. Dan inilah aku sekarang, memulai langkahku menuju fase berikutnya.
Bersambung...

Aku degdegan bacanya 😅
BalasHapus