Blog AhfieRofi

Catatan AhfieRofi

Cukuplah Kematian Sebagai Pengingat

Bagimu yang lelah dengan dunia, cukuplah kematian sebagai pengingat. Sehingga dengannya, tak perlu lagi kaulelah mengejar dunia, karena toh, pada akhirnya kita akan meninggalkan dunia beserta segala prestasi yang kauraih, posisi yang kaududuki, nama dan ketenaran yang kaudapat, juga harta dan keluarga yang susah payah kaujaga selama hidup. Sehingga dengannya pula, tak perlu lagi kaukorbankan segalanya demi meraih dunia, karena toh, yang kaudapatkan itu takkan selamanya kaumiliki. Hanya sampai kematian tiba. Jika dia tiba besok, itu artinya segala pengorbanan dan pencapaian itu hanya berarti sampai besok saja.

Bagimu yang bersedih karena dunia, merasa realita tak sesuai rencana, merasa tak seberuntung mereka; cukuplah kematian sebagai pengingat. Bahwa penderitaan dan luka apapun yang sekarang kaurasakan, sungguh, takkan bertahan lama. Hanya sampai sisa waktu di dunia habis. Menurutmu, berapa lama lagi saat itu tiba? Setahun? Dua tahun? Lima tahun? Sepuluh tahun? Pada akhirnya, berapa lamapun itu, kautahu pasti ada ujungnya, kan?

Bagimu jua, yang berbahagia dalam kehidupan dunia, merasa segala keinginan terkabulkan, segala kebutuhan tercukupkan, segala rencana terlaksana; cukuplah kematian sebagai pengingat. Bahwa kesemuanya itu juga hanya sementara. Jabatan akan purna. Harta akan sirna. Sehingga jangan sampai segala keberlimpahan dan kebahagiaan itu membuatmu terlena dan lupa pada sang pemutus nikmat bernama kematian.

Bagimu yang beristri menawan, bersuami rupawan, berkeluarga dengan pasangan dan anak yang salih salihah menyejukkan mata, dikelilingi tetangga dan kawan yang bisa diandalkan dan selalu membersamai pada setiap keadaan; cukuplah kematian sebagai pengingat. Bahwa seiring waktu, mereka akan meninggalkanmu satu persatu. Hingga tiba saatnya, giliran dirimulah yang meninggalkan mereka.

Bagi kita yang mengaku beragamakan Islam, bertuhankan Allah Yang Maha Esa, bernabikan Muhammad Shallallaahu 'Alaihi wa Sallam yang mulia, sepantasnya menyadari dan meyakini bahwa dunia bukanlah tempat tinggal kita. Ia hanya satu tempat persinggahan dan tempat mengumpulkan bekal, dari serangkaian rute perjalanan panjang menuju tempat asal kita: surga. Sehingga kita tak lagi mati-matian mengejar dunia setelah kita sadar bahwa sepanjang hidup, kematian itulah yang justru mengejar kita.

Bagi mereka yang selalu menjadikan kematian sebagai nasihat, pengingat, dan pelajaran, tiada lagi kesedihan yang berlarut-larut dalam hati mereka ketika di satu masa, dunia tak seperti yang mereka rencanakan. Juga, tiada lagi kebahagiaan yang melenakan ketika di satu hari, seolah-olah dunia beserta segala isinya berada dalam genggaman mereka. Karena semua itu hanya sementara, karena dunia bukan tempat tinggal selamanya, dan karena suatu saat mereka akan pulang. Mereka yang menjadikan kematian sebagai nasihat, pengingat, dan pelajaran, akan selalu menjadikan setiap hela napasnya bernilai ibadah, akan selalu mengupayakan setiap gerak langkahnya berbuah pahala, dan menjadikan setiap aktivitasnya dalam kehidupan dunia menjadi bekal untuk perjalanan selanjutnya yang jauh lebih panjang, gelap, dan sempit, kecuali bagi mereka yang sudah mempersiapkan dengan sebaik-baik bekal persiapan.

Mereka ini, tidak duduk pasrah sebab merasa semua telah tertulis dan tertakdirkan baginya, tapi tidak juga berhasrat menggebu demi menggenggam sepenuh dunia di tangan. Tapi merekalah yang bergerak tanpa ragu karena segala sesuatu yang sudah menjadi takdirnya takkan melewatinya. Juga takkan diam saja karena surga belum jelas bagi mereka, sehingga mereka berharap buah-buah pahala lahir dari setiap aktivitas mereka yang menjadi bekal untuk perjalanan sebakda meninggalkan alam dunia.

”Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu. Dan minta tolonglah pada Allah dan janganlah malas. Apabila kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu berkata: ‘Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu’, tetapi katakanlah: ‘Qodarollahu wa maa sya’a fa’al’ (Ini telah ditakdirkan oleh Allah dan Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya) karena ucapan’seandainya’ akan membuka (pintu) setan.” (HR. Muslim)

Komentar