Blog AhfieRofi

Catatan AhfieRofi

Khawatir #2

Rutinitasku setelah khitbah tempo itu tidak berubah banyak. Sepanjang hari scroll akun-akun lowongan kerja, kirim lamaran, perbaiki portofolio, bikin konten di instagram @ahfierofi, belajar gambar, terus begitu bergantian setiap hari. Dari sekian banyak lamaran yang kulayangkan sejak bulan April, hanya tiga lowongan yang sampai di tahap wawancara. Dari tiga lowongan itu, tidak ada satupun yang diterima.


Pernah Diterima di Pekerjaan Idaman

Setiap kali aku mengingat lowongan pekerjaan yang kulepas Februari lalu, aku selalu menyesal. Menyesal karena tidak memperjuangkannya. Waktu itu aku sudah diterima. Secara pribadi, pekerjaan itu ideal sekali untukku: jadi visualis dakwah, di penerbit Islami favoritku. Sudah sejak lama aku mengidamkan pekerjaan itu. Maka ketika panggilan wawancara datang padaku, aku nggak berpikir banyak sebelum memutuskan membeli tiket kereta tercepat ke Jogja sana.


Sepekan kemudian aku dikabarkan diterima, tapi karena beberapa pertimbangan lain, setelah berdiskusi dengan Babeh aku memutuskan tidak mengambilnya. Kurasa, aku mungkin bisa menemukan pekerjaan lain yang lebih dekat dengan orangtuaku di Bandung. Tapi sebulan berlalu, dua bulan berlalu, pekerjaan yang kuidamkan itu belum kunjung tiba. Aku mulai khawatir. Terlebih lagi, masa waktu tiga bulan pasca-khitbah terus berkurang setiap harinya.


Jadi, apakah dengan kita bersungguh-sungguh dengan niat kita, serta merta Allah langsung memberi pertolongan dengan langsung diberi pekerjaan, uang banyak, berbagai kemudahan? Kurasa, rumusnya tidak begitu. Aku yakin dengan pertolongan Allah, tapi rasanya terlalu mudah bila setelah aku memutuskan bersungguh-sungguh, kemudahan itu langsung datang. Maka kutepis segala kekhawatiranku mengenai apapun yang akan terjadi nanti. Toh, sekarang hanya ini yang bisa kulakukan. Jadi buat apa memikirkan yang tidak bisa kuraih, yang di luar kuasaku?

 

Jika dalam konteks penantian menuju pernikahan, waktu tiga bulan itu terasa teramat lambat. Tapi di saat yang sama waktu itu juga terasa begitu cepat ketika menyadari betapa sulit mencari pekerjaan sementara sebentar lagi aku akan menikah. Hingga akhirnya bulan Juni berakhir. Habis sisa waktu tiga bulan. Calon Istriku waktu itu juga sudah menghubungiku beberapa kali meminta kepastian kapan aku akan mulai mengurus syarat-syarat menikah. Kuputuskan berbicara lagi dengan Babeh.


Diskusi Menegangkan

"Beh, Rofi belum dapat kerja. Gimana atuh?" tanyaku setelah berbasa-basi singkat.

"Babeh kan udah bilang, cari kerja dulu. Baru mulai ngurusin nikah. Udah gini mau gimana lagi? Udah terlanjur khitbah."

Deg.

Mendengar perkataan Babeh, aku sadar, sepertinya aku salah memilih momen ngobrol. Sepertinya Babeh sedang banyak pikiran, atau sedang tidak mood ngobrol soal itu, atau entah apa. Aku berpikir sebentar.

"Tapi Beh..." aku berusaha mengulur waktu berpikir.

"Kalo Rofi kayak gitu Rofi maksa Babeh. Yaudah sekarang mah terserah Rofi mau gimana. Mau nikah sekarang sok. Ada nggak uangnya?"

Aku sempat ciut mendengar perkataan Babeh. Jika situasinya berbeda, tidak mungkin Babeh berkata seperti itu. Jadi aku yakin mood Babeh waktu itu sedang tidak baik. Tapi kalau aku mundur sekarang, entah kapan lagi aku akan membahas ini lagi. Setelah berpikir beberapa saat, bismillah, kuputuskan membuka kartu andalanku.

"Rofi sudah cari kerja beh. Qadarullah ternyata sampai sekarang belum dapat. Tapi kalau mau nunggu cari kerja dulu, kapan dapatnya? Kalau mau nunggu dapat kerja dulu, entah kapan nikahnya.

"Rofi juga kepikiran, selama ini toh Rofi nggak kerja juga ada aja rizkinya. Dari dulu. Waktu kecil rizkinya ada, lewat Babeh, Mamah. Waktu SMP-SMA di Bogor rizkinya ada, lewat beasiswa ditambah dari Babeh juga. Kuliah di Jogja juga ada rizkinya, lewat beasiswa juga. Beasiswa habis setelah 4 tahun, alhamdulillah rizkinya ada juga lewat orderan gambar. Sekarang setelah lulus dan tinggal lagi di rumah, orderan itu qadarullah semakin berkurang. Tapi rizkinya tetep ada, lewat Babeh lagi.

"Rofi jadi kepikiran, kalau terus-terusan menunda sambil cari kerja, entah kapan dapatnya. Bisa jadi kerjaan itu belum Rofi dapetin karena jalan rizki Rofi masih dari Babeh. Mungkin, mungkin aja, kalau Rofi menikah, tinggal berdua sama istri, rizkinya juga nanti ada, kerjaan nanti dapat."

Tentu saja, aku nggak bicara selengkap itu waktu itu, tapi kira-kira kurang lebih seperti itu. Mendengar itu Babeh diam. Smartphone yang tadi dia mainkan dia letakkan di kursi. Beberapa jenak, Babeh akhirnya berkata, "Yaudah, sekarang Rofi udah ada uang berapa?"

Alhamdulillah. Mendengar itu, aku merasa ada secercah harapan. Suara Babeh terdengar lebih rendah tidak tinggi seperti sebelumnya.

"Kalau Rofi ada uangnya, Rofi boleh nikah beh?" aku memastikan. Babeh mengangguk.

"Rofi ada segini beh (menyebutkan jumlah uang), sama tabungan cincin waktu itu segini, ditambah buat seserahan sebagian udah ada di rumah Tasha sekitar segini (menyebutkan beberapa barang seserahan yang kuingat)."

"Alhamdulillah, gening (Sunda: ternyata) itu ada. Ya kalo udah ada mah sok atuh langsung. Mau kapan mulai ngurusinnya?"

Di luar dugaanku. Babeh langsung setuju dan langsung bertanya kapan mulai mengurus berkas.

"Harusnya secepatnya sih beh, katanya minimal sebulan sebelum nikah harus udah diurus."

"Yaudah, besok babeh ke RT minta lembar N1."
"Oke beh. Nanti selanjutnya biar Rofi yang urus ke desa sama kecamatan. Babeh juga kerja kan."

"Oke."

"Yaudah, habis ini Rofi mau ngabarin Tasha."

"Nya, sok."

  

Diskusi berakhir.

Diskusi kami berakhir. Alhamdulillah. Mungkin aku belum dapat kerjaan. Tapi aku bersyukur Babeh mudah dilobi. Dan aku yakin ini bagian dari kemudahan yang Allah janjikan. Meski begitu, aku merasa bersalah karena seakan-akan mendesak Babeh, sampai-sampai membuat Babeh bersuara tinggi seperti tadi.

"Rofi minta maaf beh kalo kesannya seperti Rofi memaksa. Rofi nggak memaksa. Rofi cuma ngerasa udah waktunya menikah, dan Rofi takut kalau ditunda terus. Mohon do'anya Beh semoga ke depannya Allah beri jalan. Insyaallah ada rizkinya, doa'kan Rofi kuat."

"Gapapa Fi," Babeh menghela napas panjang, "Babeh nggak marah. Babeh seneng Rofi udah ada niat sekuat ini. Babeh nggak bisa apa-apa selain mendukung semampu Babeh. Kalau ada uangnya, Babeh bantu. Tapi yang pasti, Babeh selalu do'ain Rofi mudah-mudahan kuat menjalani rumahtangga nanti. Karena jelas nggak bakal mudah. Tapi selama ada iman, selama kita selalu mengandalkan Allah, nggak putus do'anya, nggak berhenti ikhtiarnya, insyaallah seberat apapun jalan yang dilewati Rofi dan keluarga nanti bakal siap menjalaninya."

 

Aku berkaca-kaca. Jarang sekali aku ngobrol sedalam ini dengan Babeh. Seringnya becanda. Seringnya kalaupun obrolan yang berat, hanya sepihak, hanya Babeh yang bicara dan aku menyimak. Selalu senang mendengar nasihat Babeh. Apalagi, kali ini aku bicara cukup banyak. Kali ini kami saling bertukar pendapat.


Hari itu (aku lupa itu pagi, siang, sore, atau malam, hehe), aku maju selangkah lagi menuju fase berikutnya: pernikahan. Di momen ini aku sadar, betapa penting komunikasi. Seringkali permasalahan itu hadir justru karena buruknya komunikasi. Hari itu aku cukup puas karena bisa mengutarakan pendapatku. Biasanya aku tipe orang yang lebih banyak diam mendengarkan. Jarang berpendapat, jarang memberi pandangan. Entah bagaimana jadinya bila waktu itu aku hanya mengangguk mengiyakan ketika Babeh berkata dengan suara tinggi.

Bersambung...


Di bagian berikutnya, insyaallah aku akan cerita betapa dag-dig-dug-ser pernikahan itu, mulai dari pengurusan berkas sampai akad terucap. Dan betapa berat mitsaqan ghalidza itu. Insyaallah.

Komentar