Siapa sih yang nggak mau bebas?
Aku jadi ingat seruan semacam kalimat afirmatif yang kulontarkan beberapa waktu lalu, ketika aku dan teman-temanku masih bergulat dengan tumpukan buku dan kertas berisi materi dan pembahasan soal-soal UN, "Abis UN gue bebas! Yeah!"
Bebas? Iya, bebas....
Dua tahun lalu juga. Tiap pagi aku harus berangkat sekolah lebih awal, ikut bimbingan belajar persiapan UN SMP selama satu jam sebelum masuk jam KBM. Sehabis mengerjakan UN pelajaran terakhir, lagi-lagi aku berteriak kalimat yang bunyinya sama, "Yeah, UN selesai! Gue bebas!"
Padahal lewat UN SMP, dua atau tiga bulan kemudian aku dilantik menjadi menteri Kementerian Sosial Informasi OASE 2013-2014. Dengan resmi menjadi menteri, aku punya tanggung jawab berat. Program-program yang menyita banyak waktu menunggu di depan mata....
Bebas? ^_^
Tahun lalu juga, aku berseru kalimat yang hampir sama, "Abis gue naik ke kelas lima, enggak ada lagi program-program OASE yang bikin gue stres! Gue bebas! Yeah!"
Haha, bebas....
Sepertinya aku lupa, di kelas lima bukannya bebas justru aku harus berangkat pagi-pagi sekali dan belajar lebih banyak daripada adik kelasku.
Nah, sekarang aku mulai bosan dengan kata-kata yang jelas-jelas cuma penghibur dan penyemangat itu.
Bebas?
Bagaimana aku bisa bebas, padahal di dunia kampus nanti aku harus mandiri. Maksudku, bukan cuma tinggal jauh dari orang tua dan keluarga, aku juga harus mengurus semua urusanku sendiri mulai dari bangun tidur sampai malamnya tidur lagi. Belum lagi aku juga pasti harus kerja paruh waktu demi mengurangi beban keluarga. Belum lagi kalau aku ikut organisasi, pasti sibuk banget.
Pertanyaannya adalah, kapan aku bisa benar-benar bebas?
Di tengah usahaku membuka kamus dan berbagai referensi (iya, aku serius..), akhirnya aku menemukan jawabannya....
Hatiku makin berdesir ketika membaca hadis ini,
Astagfirullah. Betapa tak pantas diri ini meminta Surga sementara jiwa masih penuh noda dan dosa. Allah sudah menjanjikan kenikmatan yang tak pernah dilihat mata, didengar telinga, dan tidak pernah terbersit dalam hati, untuk hambanya yang selalu istiqomah di jalan takwa.
Ah, Benarlah ucapan Ibnu As-Samak sewaktu khotbah penguburan jenazah seorang alim, Dawud Ath-Tha'i, "Alangkah entengnya usaha yang telah kau lakukan bila dibandingkan dengan apa yang engkau harapkan dan apa yang engkau cari (Surga)."
Wallahu a'lam bisshawab.
Aku jadi ingat seruan semacam kalimat afirmatif yang kulontarkan beberapa waktu lalu, ketika aku dan teman-temanku masih bergulat dengan tumpukan buku dan kertas berisi materi dan pembahasan soal-soal UN, "Abis UN gue bebas! Yeah!"
Bebas? Iya, bebas....
Dua tahun lalu juga. Tiap pagi aku harus berangkat sekolah lebih awal, ikut bimbingan belajar persiapan UN SMP selama satu jam sebelum masuk jam KBM. Sehabis mengerjakan UN pelajaran terakhir, lagi-lagi aku berteriak kalimat yang bunyinya sama, "Yeah, UN selesai! Gue bebas!"
Padahal lewat UN SMP, dua atau tiga bulan kemudian aku dilantik menjadi menteri Kementerian Sosial Informasi OASE 2013-2014. Dengan resmi menjadi menteri, aku punya tanggung jawab berat. Program-program yang menyita banyak waktu menunggu di depan mata....
Bebas? ^_^
Haha, bebas....
Sepertinya aku lupa, di kelas lima bukannya bebas justru aku harus berangkat pagi-pagi sekali dan belajar lebih banyak daripada adik kelasku.
Nah, sekarang aku mulai bosan dengan kata-kata yang jelas-jelas cuma penghibur dan penyemangat itu.
Bebas?
Bagaimana aku bisa bebas, padahal di dunia kampus nanti aku harus mandiri. Maksudku, bukan cuma tinggal jauh dari orang tua dan keluarga, aku juga harus mengurus semua urusanku sendiri mulai dari bangun tidur sampai malamnya tidur lagi. Belum lagi aku juga pasti harus kerja paruh waktu demi mengurangi beban keluarga. Belum lagi kalau aku ikut organisasi, pasti sibuk banget.
Pertanyaannya adalah, kapan aku bisa benar-benar bebas?
Di tengah usahaku membuka kamus dan berbagai referensi (iya, aku serius..), akhirnya aku menemukan jawabannya....
Saat Imam Ahmad bin Hambal ditanya, "Kapan seorang hamba akan merasakan istirahat?" ia menjawab, "Saat pertama kali menjejakkan kakinya di Surga."
Hatiku makin berdesir ketika membaca hadis ini,
Nabi SAW bersabda, “Rombongan yang pertama masuk surga datang dengan wajah bercahaya bak rembulan di malam purnama. Rombongan berikutnya datang dengan wajah bercahaya seperti bintang-bintang yang berkemilau di langit. Masing-masing orang di antara mereka mempunyai dua istri, dimana sumsum tulang betisnya kelihatan dari balik dagingnya. Di dalam surga nanti tidak ada bujangan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Astagfirullah. Betapa tak pantas diri ini meminta Surga sementara jiwa masih penuh noda dan dosa. Allah sudah menjanjikan kenikmatan yang tak pernah dilihat mata, didengar telinga, dan tidak pernah terbersit dalam hati, untuk hambanya yang selalu istiqomah di jalan takwa.
Ah, Benarlah ucapan Ibnu As-Samak sewaktu khotbah penguburan jenazah seorang alim, Dawud Ath-Tha'i, "Alangkah entengnya usaha yang telah kau lakukan bila dibandingkan dengan apa yang engkau harapkan dan apa yang engkau cari (Surga)."
Wallahu a'lam bisshawab.

Komentar
Posting Komentar