Takwa itu di hati,
Maka ia terbukti kala sendiri dan sepi,
Saat godaan menari-nari dan diri merasa tiada yang mengawasi.
Ya Rabbi, jagalah kami.
Astagfirullah....
Takwa itu di hati,
Orang lain mungkin hanya tahu kita dari luarnya saja. Rajin ibadah, salat selalu di shaff terdepan, sedekah tak pernah terlewat walau sehari, mungkin orang bisa melihat itu. Tapi demi Allah, hanya Allah yang tahu seperti apa niat kita. Maka alangkah pentingnya selalu memperbaiki niat. Karena boleh jadi dalam ibadah kita, dalam salat-salat dan sedekah yang kita keluarkan, terselip sedikit harap untuk dilihat, dilirik, dan dijuluki 'Ahli Ibadah' atau 'Si Dermawan' atau apalah.
Maka ia terbukti kala sendiri dan sepi,
Seberapa banyak kita mengingat-Nya kala sepi? Seberapa banyak ibadah yang kita perbuat dalam sendiri? Sebandingkah dengan yang tampak dan terlihat manusia? Mudah-mudahan kita bisa menjadi pribadi yang selalu memperbaiki diri, agar tidak termasuk orang riya: yang bersemangat kala dilihat; bermalas jika tak terawas; dan mencita puji di setiap sisi diri.
Saat godaan menari-nari dan diri merasa tiada yang mengawasi.
Mari kita renungi perkataan Abu Hamid Al-Khalfani,
Apabila Rabb-ku bertanya kepadaku,
'Tidakkah bengkau bermaksiat kepada-Ku,
Engkau menyembunyikan dosa dari hadapan makhluk,
Lantas engkau datang kepada-Ku dalam keadaan bermaksiat.'
Boleh jadi, akulah yang paling munafik di dalam cerita ini. Yang berusaha tampak hebat di hadapan sesama, tapi tak begitu di sebaliknya. Astagfirullah, tsumma naudzubillah.
“Keinginan menampilkan diri pada insan itu melelahkan. Menunaikan amal dengan disaksikan Allah itu melegakan.” (Ust. Salim A. Fillah)Ya Rabbi, jagalah kami.
“Indah jika kita tak bangga hati dengan amal; tak mendaku akan ikhlas; tapi selalu harap dan cemas, memohon ditolong menaati-Nya.” (Ust. Salim A. Fillah).
Wallahu a'lam bisshawab.

Komentar
Posting Komentar