Dua orang itu berjalan pelan menyusuri jalan setapak sepanjang taman yang cukup ramai oleh sepasang-sepasang kawan atau kekasih atau lansia yang menghabiskan pagi dengan berolahraga. Sepanjang jalan, Ahfie terus saja bercerita dengan kedua sudut alis bertaut hampir bersentuhan satu sama lain. Tampaknya hari ini mood-nya sedang tidak baik. Rofi sebagai sahabat yang baik mendengar dengan seksama apapun yang dikatakan Ahfie sambil sesekali bergumam atau berkomentar atau hanya tersenyum. Iya, berbeda dengan Ahfie, Rofi cenderung lebih sabar dan bijak daripada kawannya ini.
“Kesal sekali! Hari ini buruk! Pagi-pagi aku bangun jam enam, terlambat salat subuh. Ah, akhir-akhir ini sepertinya aku semakin malas,” gerutu Ahfie. Rofi hanya tersenyum kecil, seperti biasa.
Sementara itu, jalan setapak terus menuntun mereka hingga ujung taman. Di sana, di salah satu sisi gerbang keluar, bersender duduk seorang wanita tua berpakaian kusut compang camping. Kulitnya hitam keriput dan kotor, terlihat sekali dia sudah duduk lama di sana. Tanganya menengadah lemah berusaha menarik perhatian pejalan kaki untuk menyisihkan sekeping receh atau seribuan di tangannya.
Rofi segera mendekati wanita itu dengan senyum iba. Dari kantong celananya, dia mengeluarkan dompet, berjongkok dan meletakkan uang sepuluh ribuan di tangan wanita itu sambil menggumamkan doa. Sang nenek tersentak, lantas dengan mata berkaca-kaca dia berkata lemah dengan suara yang bergetar, “Alhamdulillah, terima kasih nak. Mudah-mudahan Allah memberkahimu.”
Rofi tersenyum simpul, “Afwan,” katanya, “Hanya itu yang bisa saya beri. Mudah-mudahan Allah memudahkan segala urusan Ibu.”
***
Setelah sepenggal kejadian kecil itu, Ahfie dan Rofi berjalan lagi. Ahfie melambaikan tangan mencegat sebuah bis kota yang lewat, lantas dengan gesit keduanya melompati tangga dan masuk ke dalam bus. Penuh! Terpaksa mereka berdiri di koridor sempitnya.
“Buat apa kau berikan uang sepuluh ribu itu ke nenek-nenek tadi? Mendingan itu buatku, kebetulan aku belum sarapan.” Tanya Ahfie ketus. Tampaknya sejak tadi dia menahan diri untuk tidak berkomentar hingga mereka dapat leluasa berbincang lagi.
“Astagfirullah, apa maksudmu?” Tanya Rofi justru balik bertanya.
“Maksudku jelas! Buat apa kau berikan uangnya ke nenek itu? Kita nggak tau, dia itu pura-pura miskin atau memang gitu!” jawab Ahfie dengan nada penekanan di tiap katanya.
“Jangan su'udzon, Fie. Jelas nenek itu butuh uang, dan aku ingin memberi uangku. Itu bukan urusanmu. Toh, kau tahu dari mana nenek itu pura-pura miskin?” sergah Rofi sambil menahan amarahnya.
“Aku yakin, nenek-nenek itu cuma pura-pura miskin supaya dapat uang lebih mudah! Kau pasti tidak tahu, banyak pengemis-pengemis seperti nenek-nenek tadi, yang penampilannya lusuh menyedihkan, membuat kita iba. Padahal dari 'usaha'-nya itu mereka bahkan sampai bisa membeli gadget! Enak sekali kerjanya, cuma duduk di pinggir jalan, lantas pulang bawa uang banyak!” seru Ahfie seperti lupa mereka sedang berdiri di dalam bus yang ramai.
Rofi terdiam di ujung kalimat Ahfie. Untuk beberapa saat lengang, Rofi diam berpikir sementara Ahfie dengan raut masih kesal menatap Rofi, menunggu jawaban.
Akhirnya Rofi mengangkat suara, “Aku mengerti perasaanmu. Iya, kau benar, mungkin nenek-nenek itu baru saja menipu kita dengan penampilannya. Tapi lantas kenapa? Kupikir, itu tak akan membuatku batal memberi kepadanya. Ah, aku juga sering memakai topeng, menipu dengan penampilanku, tapi Dia selalu memberi ketika aku meminta.”
“Apa maksudmu?” Ahfie menyeringai ketika rasanya antiklimaks menunggu jawaban dari Rofi, dan dia justru hanya mengatakan itu.
“Iya, maksudku, aku juga sering kok, meminta ampun dan berjanji tidak berbuat kesalahan yang sama, meski pada akhirnya di lain waktu aku mengingkarinya. Lantas memohon-mohon, meminta dengan linangan air mata, merendahkan diri serendah-rendahnya, kemudian Allah mengampuni dosa-dosaku dan mengabulkan semua keinginanku.” tutur Rofi panjang lebar. Seperti terpengaruh kata-katanya sendiri, matanya mulai berkaca-kaca selagi ia berbicara.
“Eh?” Ahfie tercekat tak bisa berkata apa-apa. Lantas menunduk.
“Lagipula, kalau diberi kesempatan, aku sendiri tidak mau bertukar posisi dengan nenek-nenek tadi: duduk di pinggir gerbang dengan pakaian lusuh dan kotor, tangan menengadah meminta belas kasihan. Kau mau?” Rofi melanjutkan lagi dan mengakhirinya dengan pertanyaan retoris. Ahfie hanya menggeleng lemah. Dada Ahfie sendiri sudah bergetar. Sesak. Sedih. Malu.
***
Ah, tampaknya, kita harus mulai berkaca pada diri sendiri sebelum melontarkan komentar-komentar miring atau ucapan-ucapan pedas atas kesalahan yang kita lihat. Karena bukankah Nabi kita tercinta sering berwasiat, “Sesama muslim adalah cermin satu sama lain.”
Dan, sebagai sahabat bagi kawan kita, patut kita renungi nasihat dari Ust. Salim A. Fillah di bawah ini agar kita tak salah bertindak.
Kawan yang tulus kadang memang lebih menyebalkan daripada musuh yang menyamar, bekal utama kebersamaan adalah kesabaran. Sebab kita tahu, perjalanan berombongan lebih lambat dibanding sendirian, berkawan insan-insan mulia harus disertai kesadaran, bahwa kita selalu harus “sedang menuju” kemuliaan; bukan telah sampai.
Wallahu a'lam bisshawab.
Komentar
Posting Komentar