Di sekolah dasar, kita mempelajari secara singkat mengenai definisi tentang angin. Kita pasti ingat, guru-guru kita menerangkan berdasarkan buku panduan bahwa angin adalah udara yang bergerak dari tempat bertekanan tinggi ke tempat bertekanan rendah. Definisi ini kita hapalkan hingga mengakar kuat dalam otak kita, sehingga setiap kali ada yang bertanya apa itu angin, secara lugas kita bisa menjawab bahwa angin adalah udara yang bergerak dari tempat bertekanan udara tinggi ke tempat bertekanan udara rendah.
Kemudian di SMA, kita belajar dalam ilmu Geografi bahwa menurut Buys Ballot, seorang ahli ilmu cuaca dari Perancis, angin adalah massa udara yang bergerak dari daerah bertekanan maksimum ke daerah bertekanan minimum.
Lalu kenapa?
Pada suatu sesi seminar sebuah majalah ilmu pengetahuan bertajuk Mata Air, pembicara membahas mengenai definisi angin menurut Islam. Dia memulai dengan mengutip beberapa potongan ayat Al-Quran,
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira.." (Qs. Ar-Ruum: 46)
"Allah, Dialah yang mengirim angin.." (Qs. Ar-Ruum: 48)
"Coba perhatikan bagaimana Al-Quran menjelaskan mengenai angin, dan bagaimana definisi angin yang sudah kita hafal di luar kepala sejak dulu," ujar sang pembicara persuasif. Matanya menyapu seluruhh ruangan.
"Sejak dulu kita mengenal angin sebagai udara yang bergerak dari daerah bertekanan tinggi ke daerah yang bertekanan rendah. Tapi ternyata Allah memberi pengertian lain dalam Al-Quran," terangnya memecah keheningan beberapa saat.
Hanya satu imbuhan kata sebenarnya perbedaannya, tetapi hal ini memberi dampak yang fatal apabila disalah artikan. Ada pemisah jelas antara kata bergerak dengan kata digerakkan, dua kata itu bisa membuat sebuah kata menjadi subjek atau objek. Dalam hal ini, para ilmuwan dan buku-buku pelajaran mendefinisikan angin sebagai subjek atau pelaku yang bergerak.
Sementara dalam Al-Quran, secara jelas difirmankan bahwa Allah, Dialah yang mengirim angin. Artinya, dalam konteks ini angin berperan sebagai objek yang digerakkan oleh suatu zat yakni Allah SWT.
Lebih jauh lagi, tanpa kita sadari definisi pertama yang dikemukakan para ilmuwan Barat ini menekankan bahwa segala zat di dunia ini termasuk angin adalah suatu zat yang hidup dan dapat bergerak sendiri tanpa campur tangan Penciptanya. Hal ini tidak mengherankan, mengingat bahwa tidak sedikit ilmuwan Barat yang mengaku dirinya sebagai Atheis, anti Tuhan, dan sangat mendewakan ilmu pengetahuan.
Untuk itu, ada baiknya kita sebagai umat Muslim lebih berhati-hati dalam mempelajari sesuatu. Jangan langsung bangga mengutip istilah-istilah asing yang diambil dari ungapan tokoh-tokoh ilmuwan Barat. Karena seperti kita ketahui bersama bahwa banyak dari mereka menganut ideologi anti-Tuhan. Kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah adalah jalan terbaik bagi kita di antara hiruk pikuk kekacauan zaman sekarang. Bingung dengan suatu hal, kembalilah pada Al-Quran dan jalan para Sahabat Rasul, maka Insyaa Allah kita akan selamat.

Komentar
Posting Komentar