Blog AhfieRofi

Catatan AhfieRofi

Kehabisan Kata-kata


“Gue gatau mau nulis apa,” curhatku suatu kali kepada temaku lewat fitur perpesanan di ponsel. Dia adalah sahabat yang merangkap sebagai manajer blogku. Setelah hampir lima bulan blogku kehabisan stok tulisan, aku akhirnya melontarkan curahan hatiku pada Johan.

“Lu jarang baca sih. Makin jarang baca ya jelas makin susah nulisnya. Sebagai salah satu referensi, terutama karena utang tulisan lu bercerita seputar perjalanan lu berkeliling candi, coba baca blog gue, www.johanfjr.com, hehe.”

“Ah! Ngiklan lu!” seruku pura-pura kesal dengan menyisipkan emoticon -_-

Tapi sepertinya benar kata Johan. Aku kurang membaca. Entahlah. Aku juga heran, buku-bukuku masih teronggok menyedihkan, berimpitan di rak buku, berdebu. Aku jarang sekali menengok apalagi membacanya. Hanya sesekali aku berhenti di depan rak, mengambil satu buku, membuka-buka sekilas, lantas meletakkannya lagi. Seandainya mereka hidup, mungkin aku bisa mendengar isak memilukan dari mereka.

Padahal waktuku tidak bisa dibilang padat. Kadang dalam satu hari aku hanya mendapat jadwal kuliah dua sks. Bahkan, ketika buku sudah di genggaman pun rasanya tidak ada hasrat untuk membaca. Padahal aku sudah menyingkirkan gadget-gadget dan berbagai hal yang berpotensi mengganggu kekhusyukanku. Tetap saja, baru membaca satu dua halaman, gairah membaca itu entah kenapa tidak juga datang.

Akhirnya pikiranku kosong. Rangkaian kata yang biasanya mengalir dengan lancar dan lugas, kini tersendat, bahkan bersembunyi entah di mana di dalam pikiranku.

Aku ingin menulis. Tapi aku kehabisan kata-kata….

Belum lagi, guruku tampaknya mulai semangat menulis. Rencananya kami akan menerbitkan novel buatan kami berdua. Itu artinya aku juga harus mengimbangi dengan rajin-rajin melanjutkan ceritanya.

Mau tidak mau aku harus membaca. Sebenarnya mau. Tapi entah kenapa gairah ingin membaca itu belum menampakkan wujudnya….

Menjadi dilematis tersendiri. Seharusnya dengan segala yang kumiliki sekarang aku bisa lebih produktif lagi dalam menulis. Tapi kenyataannya, aku yang sekarang masih kalah dengan aku yang dulu. Padahal dulu aksesku terbatas. Aku tidak bisa setiap saat mengakses komputer dan mengunggah tulisan terbaruku. Tapi anehnya aku bisa menulis setidaknya satu tulisan setiap minggu.

Begitu lulus SMA, ketika aku bisa membuka laptop kapanpun aku mau, justru di situlah aku kehilangan fokus. Banyak godaan mulai dari film-film yang belum kutonton, berita terbaru dari media sosial, permainan yang sudah lama tidak kumainkan, dan lain-lain. Akhirnya itu menjadi kebiasaan. Hari terus berlanjut, satu minggu, satu bulan, masih belum ada tulisan masuk. Hingga berbulan-bulan, aku seperti lupa daratan. Sudah menjadi kebiasaan sepertinya, ketika membukan laptop, kalau tidak nonton film ya berselancar di dunia maya. Buku-buku membisu di dalam rak, tak berdaya, berharap suatu saat aku memungut salah satunya.

Akhirnya ketika Johan mulai gencar mengingatkanku bahwa blogku sudah lama sekali tidak “diberi makan”, semua sudah terlambat. Aku sudah “lupa” bagaimana caranya menulis. untuk mengembalikankan “ingatan” itu, aku perlu membaca. Dan sudah lama aku tidak membaca. Jadilah aku merasa “asing.”

Sekarang, aku benar-benar buntu. Aku “lupa” caranya menulis. dan aku sudah kehilangan gelora yang dulu membara di dalam hatiku setiap kali aku menemukan buku baru yang belum kubaca.


Aku berharap ini tidak akan lama. Sampai tulisan ini dibuat aku masih berusaha mengembalikan kebiasaan lama itu. Doakan saja….

Komentar