Suatu hari, tidak lebih dari dua tahun yang lalu, aku dan teman-teman INDIERS mengikuti suatu camp pelatihan.
Di sana, aku diajarkan untuk tidak menyimpan emosi negatifku. Keluarkan saja. Teriakkan. Pukul. Lempar. Di sana ada satu sesi di mana masing-masing dari kami diberi sebuah tongkat berukuran setengah meter terbuat dari gulungan koran yang dililit dengan kuat menggunakan lakban. Kuat sekali. Lalu kami melingkar, dan ada satu orang bergiliran maju ke depan. Aba-abanya, kami harus menggenggam tongkat itu sekuat yang kami bisa, kemudian setelah kami mengembuskan napas beberapa saat, kami mulai memukulkan tongkat ke atas karpet sekuat yang kami bisa. Semakin kuat semakin efektif. Kami harus melakukannya sambil berteriak keras-keras, mengeluarkan setiap emosi negatif melalui ungkapan-ungkapan seperti, "Aku tidak akan bolos lagi" atau "Aku akan menjadi murid yang patuh" atau "Aku bukan anak pemalas" dan sebagainya.
Kemudian, di sesi lain kami juga diberi aba-aba untuk membuat lingkaran besar. Di sana, masing-masing diberi kesempatan untuk maju, lantas dia berjalan menyusuri sisi bagian dalam lingkaran, kemudian sambil mengepalkan tangan kuat-kuat dan mengacungkannya ke langit, kami harus berteriak sekeras yang kami mampu, sambil menatap setiap orang, meneriakkan ungkapan afirmatif seperti di sesi sebelumnya.
Dan itu hanya beberapa dari sekian sesi "Keluarkan-emosi-negatifmu" dari pelatihan itu.
Dan itu benar-benar efektif.
Dengan berteriak mengeluarkan segenap emosi, apalagi sambil mengepalkan tangan kuat-kuat atau memukulkan tongkat ke lantai dengan kuat, emosi kami bisa keluar. Hampir setiap orang melakukannya sambil menangis. Iya. Lucu sekali bila diingat lagi, teman-teman yang biasanya paling bandel, tidak baper, karena di sesi-sesi itu mereka melakukannya dengan segenap hati, emosi mereka pun bisa keluar. Mereka bisa ikut merasakan betapa emosional apa yang diaba-abakan panitia kepada kami. Dan tidak ada yang keberatan dengan tangis itu. Malah tangisan teman kami dapat membantu kami mengeluarkan airmata kami yang masih malu-malu.
Bahkan, aku yang biasanya tertutup, pemalu, di sesi-sesi itu aku berusaha mengeluarkan semuanya.
Dan semua itu efektif sekali. Bahkan untukku.
Setelah melalui sesi-sesi itu, aku merasa lebih lega. Seperti ada beban yang diangkat. Dadaku bergemuruh, degub jantungku berdetak makin cepat. Lantas seperti dilepaskan dari ketinggian. Lega. Ringan.
***
Entah beban ini terlalu berat untuk kutanggung, atau aku saja yang masih kurang bersabar.
Tapi sekarang aku merasa berat. Frustasi. Masalah-masalahku bisa dibilang sepele, seperti laptop lemot, ditagih teman soal pesanan gambar, atau yang lain. Tapi banyak. Dan mereka datang di waktu yang bersamaan. Dan ini bukan yang pertama kalinya.
Di saat seperti ini, aku rindu masa-masa itu. Ketika aku bisa meluapkan semua emosi negatifku. Menyalurkannya lewat teriakan lantang berkali-kali, sampai serak, sampai puas, sampai tenagaku terkuras hanya untuk berteriak dan memukul.
Sementara sekarang, aku hanya bisa memejamkan mata, mengepalkan tangan, menahan emosi-emosi itu keluar. Dan, kautahu, itu sulit sekali.
Sekalinya emosi itu keluar, aku bisa menyakiti orang lain. Jadi, bukan tanpa alasan sebenarnya aku hanya menyeringai seolah berkata "Garing lu!" ketika ada yang membuat lelucon, atau hanya menoleh sekilas ketika ada yang menyapaku, atau menolak secara terang-terangan ketika ada teman yang mengerjaiku dengan menggelitik atau menarik tanganku, atau selalu memasang tampang "angkuh".
Maafkanlah. Maafkanlah...
Aku ingin berteriak. Aku ingin meluapkan emosiku. Aku lelah menyimpannya seperti ini.
Tapi untuk saat ini, mana mungkin. Bisa-bisa aku mengganggu yang lain ^^"
Entahlah. Sepertinya aku belum bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan dan pola kehidupan yang baru. Masalah-masalah di kampus tentu amat berbeda dengan masalah dulu di SMA. Kebiasaannya berbeda, rutinitasnya berbeda, tugasnya berbeda, orangnya berbeda. Ditambah lagi, aku juga tinggal di asrama dengan segudang kesibukannya.
Entahlah. Atau mungkin aku yang terlalu melebih-lebihkan.
Hanya saja, aku masih belum bisa menerima tempat ini. Belum bisa menerima setiap hal-hal baru yang menghampiriku.
Seperti biasa.

Komentar
Posting Komentar