Blog AhfieRofi

Catatan AhfieRofi

Sejarah yang Sompal

Johan temanku lagi-lagi terus menagih tulisan baru untuk blogku. Dan yang akhir-akhir ini berkali-kali dia singgung adalah soal "hutang tulisan" yang dulu pernah kujanjikan ketika kami berlibur bersama. Padahal, kejadian itu sudah terlewat tiga bulan yang lalu. Dan baru sekarang aku benar-benar berhasrat menceritakannya. Bukan berarti dulu aku tidak tertarik menceritakannya, tapi waktu itu aku terlalu terlena dengan liburan sehingga tidak sempat menulis. Hehe, alasan lagi ^^"

***

Dari tiga minggu liburan, kami hanya punya waktu dua hari untuk berlibur bersama. Dua hari itu menjadi dua hari paling padat dan menyenangkan bagiku. Setelah sibuk dengan pelajaran di asrama sementara teman-temanku sudah berhura-hura di berbagai lokasi wisata, akhirnya aku mendapatkan liburanku.

Jumat sore aku segera berkemas dan berangkat menuju rumah Johan di Magelang. Malam itu aku tidak sabar menunggu akan seperti apa cerita esok dan lusa. Tempat mana yang akan kami kunjungi sudah kami sepakati bahkan sebelum aku mengemasi barang-barangku dari Yogyakarta. Tinggal menunggu waktu. Beberapa jam lagi, bisikku menenangkan hati yang sudah merindu perjalanan menyenangkan dengan sahabatku.

Esok paginya, Sabtu 30 Januari 2016….

“Fi, buruan mandi sana!” Johan melempar bantal ke arahku. Aku tidak terlalu mempedulikan, sambil mataku fokus ke layar tv aku membalas, “Lu duluan lah dingin, masih pagi juga.”

“Dih, ni anak!”

Aku menggeliat di atas karpet yang hangat, selimut yang menutupi tubuhku sudah berantakan. Kakiku tersingkap, ya Tuhan dingin sekali!

Magelang benar-benar dingin. Mungkin karena di Yogyakarta suhunya sangat berbeda dengan di sini. Untuk sesaat aku ingin lupa kalau hari ini menjadi hari pentingku. Inginnya aku memanjakan tubuhku di balik selimut, menonton tv meski siarannya kebanyakan tidak menarik. Tapi sepuluh menit kemudian aku mau tidak mau harus bangkit.

“Gue udah mandi, buruan lu mandi keburu siang tar panas,” kata Johan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.

“Yelah… yelah…”

***

Dua puluh menit kemudian kami sudah siap berangkat. Perjalanan kali ini berbeda dari sebelumnya.  Biasanya kami membawa sepeda masing-masing, lantas mengayuh pedal bersisian atau salah seorang dari kami di depan.

“Lu beneran udah bisa kan pake motornya?” tanyaku ragu sambil melirik Johan yang sedang memasang helm di kepala.

“Iya lah, sial diremehkan gue.”

Diawali dengan doa bersama, kami melaju membelah jalanan yang mulai ramai menyambut dunia.

***

Meski matahari sudah mulai naik, hawa dingin menusuk membuat tanganku yang tak tertutup sehelai kain pun gemetaran. Aku agak menyesal tidak membawa jaket INDIERS kebanggaanku dari rumah tadi.

Memerlukan waktu satu jam hingga kami tiba di kompleks candi Borobudur, tempat yang paling ingin kukunjungi sejak dulu. Selain karena sekarang aku tinggal di Yogyakarta, tak terlalu jauh dari situs candi yang berlokasi di kota tetangganya, Magelang, aku juga ingin sekadar napak tilas tempat yang belasan tahun lalu pernah kukunjungi ketika aku masih baru belajar berjalan.

Tak kusangka, tempat ini ternyata jauh lebih luas dari yang kukira. Tidak hanya ada Candi Borobudur sebagai tujuan utama para wisatawan, di kompleks candi ini juga terdapat berbagai macam lokasi eksotis yang cocok untuk berfoto.

Tangga batu yang kami tapaki akhirnya tiba di ujungnya. Ketika aku menengadah menyapukan pandanganku dari ujung kiri ke kanan, aku hampir tidak bisa berkata apa-apa selain, “Keren.”

“Nyampe juga…” ujar Johan lebih seperti untuk dirinya sendiri.

Kemudian kami melakukan ritual seperti biasa, mencari sudut menarik untuk diabadikan. Setelah itu barulah kita khusyuk menikmati setiap inci bagian candi.

“Pasti Borobudur yang sekarang gue kunjungin udah beda sama Borobudur yang belasan tahun lalu waktu pertama kali gue ke sini,” kataku ironi.  Johan menoleh.

“Iya lah. Udah banyak yang terjadi. Gempa Jogja. Letusan gunung Merapi. Dan yang terakhir tragedi pemboman kemarin-kemarin. Banyak bagian candi yang akhirnya rusak,” jelas Johan sambil menunjuk beberapa bagian candi yang sompal. Ada perasaan sayang, sekaligus kesal dengan ulah-ulah tidak bertanggung jawab. Kami berjalan lagi menaiki tingkatan berikutnya.
 
“Dulu waktu gue ke sini di sini masih pake tangga batu. Sekarang udah diganti sama kayu. Gatau deh apa itu karena rusak atau udah nggak aman.”

Aku mengikuti arah telunjuk Johan. Benar. Berbeda dengan tangga sebelumnya, yang ini sudah diberi alas kayu dan pegangan di sisinya.

Sepanjang dinding candi, dari bawah sampai atas, aku menemukan serangkaian pahatan-pahatan berbentuk relief yang tampaknya menerangkan kisah-kisah zaman dulu. Cukup lama kami berjalan sampai kami tiba di puncak candi. Ternyata, inilah tempat yang paling aku cari. Indah sekali melihat bentuk-bentuk stupa yang mengelilingi candi.

“Mau coba masukin tangan lu ke dalem?” Tanya Johan diiringin cengiran khasnya.

“Haha, gak lah ngapain coba. Mending lu fotoin gue lagi jalan. Jangan deket-deket. Hehe.”

 

Komentar