Blog AhfieRofi

Catatan AhfieRofi

Tawa yang Tak Kunikmati

Aku sedang membuka-buka berkas lama di laptop kesayanganku ketika menemukan tulisan ini. Tulisan yang dibuat satu bulan yang lalu, mengenai curahan hatiku, keluhan, dan entahlah, yang kutulis di tengah kepenatan tugas dan kesibukan yang sebenarnya tidak banyak tapi menjadi beban tersendiri.

Kira-kira begini....

***

Kuatkanlah ya Allah. Teguhkanlah. Istiqomahkanlah... T_T

Hari-hari terasa semakin sulit bagiku. Hati ini semakin sering mengeluh dengan berbagai materi, tugas, dan ujian-ujian yang terus datang. Terutama, tugas dari salah satu mata kuliah yang selalu menjadi rutinitas setiap minggu, membuat teks percakapan, laporan berita atau presentasi mengenai tema yang diangkat dalam bahasa Arab.

Baru semester dua, sekarang materi sudah masuk bab mengenai laporan berita olahraga. Tugasku adalah membuat video berita olahraga dengan masing-masing mahasiswa berperan sebagai reporter berita olahraga. Padahal tahu sendiri berita olahraga biasanya sering menggunakan istilah-istilah yang bermajas. Belum lagi istilah-istilah itu harus kuubah ke dalam bahasa Arab yang kompatibel dengan budaya sastra di sana.

Menghadapi tugas seperti itu, entah bagaimana rasanya, terutama untuk aku yang mulai dari nol masuk jurusan ini. Bukannya aku tidak mencoba dan langsung menyerah mendapat tugas yang cukup berat itu. Akupun sudah berusaha menerjemahkan berita olahraga berbahasa Indonesia itu ke dalam bahasa Arab. Tapi....

Kembali aku teringat dengan tugas rutin dari mata kuliah ini satu minggu yang lalu. Menyerah setelah berusaha menerjemahkan teks mengenai lokasi wisata di Mesir yang akan dipresentasikan di depan, akhirnya aku memilih bolos mata kuliah itu. Untuk kelima kalinya.

Aku tidak tahu apa memang sesulit ini, atau hanya aku yang terlalu malas, atau memang aku yang payah. Hanya saja, sulit melakukannya. Rasanya terlalu banyak materi-materi yang diajarkan di kampus yang mesti kutampung dalam waktu yang relatif pendek, mulai dari pola kalimatnya, susunan katanya, sintaksisnya, morfologinya, dan kosakata yang segudang.

Entahlah. Semakin lama gairahku mempelajari bahasa yang dulu kuperjuangkan mulai dari tes SNMPTN hingga SIMAK UI semakin surut. Setiap ada tugas, selalu yang terpikir pertama kali adalah bagaimana cara lolos dari tugas itu.

Dan sebaliknya, di sela kejenuhan itu, menggambar selalu menjadi kegiatan yang benar-benar menghibur.

Beberapa waktu lalu, teman asramaku yang masih kelas tiga SMA bertanya padaku bagaimana kehidupan di jurusan sastra sepertiku. Lalu setelah berpikir beberapa saat, aku menjawab.

“Kalo kamu nggak bisa jadi mahasiswa yang ahli di bahasa jurusanmu itu, mending kamu cari keahlian lain di luar jurusanmu, semisal gambar, atau nulis, atau wirausaha. Soalnya, profesi-profesi seperti diplomat, duta, penerjemah, atau bahkan guru pengajar bahasa itu perlu kemampuan bahasa yang nggak kecil juga. Jadi kalau kemampuan bahasa kamu nggak seberapa, menurutku susah buat dapet kerjaan di bidang bahasa. Makanya, perlu punya keahlian lain.”

“Terus, kalo Mas termasuk tipe yang mana?”

Aku menyeringai mendengar pertanyaannya, lantas sambil tertawa terbahak-bahak aku menjelaskan bahwa aku sepertinya kesulitan di jurusanku, jadi aku memutuskan untuk fokus juga mengasah kemampuan menggambarku di sela tugas-tugas dari kampus (yang sebagiannya tidak kukerjakan karena terlalu asyik menggambar).

Pertanyaan semacam itu, yang sering kali justru muncul dari benakku sendiri, mau tidak mau membuatku ingin tertawa. Meski, tawa itu juga tawa miris, tawa yang menghina diri sendiri, tawa yang tidak aku nikmati, hanya ingin meluapkan rasa sedih, sesal, dan entah apa yang semakin lama semakin besar, hanya ingin membebaskan perasaan hati dari sesak beban yang terus mengimpitku, beban lahir dan batin. Beban perasaan.


Aku tidak tahu. Entah akan bertahan sampai kapan....

Komentar