Kemampuan menulisku sudah tumpul sepertinya. Lama sekali aku
tidak menyentuh buku harianku. Padahal lima tahun lalu, buku harian menjadi
bagian penting dalam hidupku. Ia juga temanku. Dulu, aku selalu membawa buku
kecil tempat aku mencatat apapun. Keluh kesah. Amarah. Curahan hati. Dan banyak
lagi. Buku itu menjadi satu-satunya teman yang selalu menjadi tempat aku
melepaskan semua emosiku. Juga teman yang selalu menghiburku dengan
tulisan-tulisanku sendiri.
Banyak hal sebenarnya yang terpikir dalam benakku dan
rasanya ingin sekali kutumpahkan semuanya dalam rangkaian kata-kata yang lama
tidak mengalir dari pikiranku. Tapi aku tidak tahu harus memulai dari mana. Jadi.
Kurasa sekarang yang bisa kulakkukan hanyalah menulis apapun yang ada dalam
pikiranku. Tentang hari-hari yang kurindukan dulu sekali. Bersama hobi-hobiku. Bersama
kebiasaan lamaku. Bersama kakak dan teman karibku. Dulu.
Aku akan mulai bercerita tentang aku dan bukuku….
Buku.
Dulu, hidupku hampir tidak bisa terpisahkan oleh buku. Ke mana-mana aku selalu membawa buku.
Aku suka buku. Aku menjadi pengunjung rutin perpustakaan sekolahku. Aku senang
menghabiskan waktu istirahatku di jajaran rak buku di perpustakaan. Menyusuri
deretan buku-buku dengan ujung jariku sambil membaca judul ke judul. Sesekali
aku berhenti dan meraih salah satu buku, lantas membuka beberapa halamannya.
Kalau aku merasa
tertarik, aku akan berhenti di satu halaman, membaca satu paragraf. Lantas aku
akan melihat lebih lama sampul bukunya. Kalau benar-benar tertarik dan merasa
buku itu harus aku baca maka aku akan terus memegangnya sambil kembali
menyusuri rak ke rak.
Seperti di
perpustakaan-perpustakaan lain, perpustakaan sekolahku pun mengelompokkan
setiap buku ke dalam beberapa kategori seperti jenis buku novel, religi,
kesehatan, ilmu pengetahuan alam, psikologi, pendidikan, makanan, keterampilan,
dan berbagai macam lagi. Pengelompokkan buku tersebut ditandai dengan label
warna di pojok bawah buku.
Jenis buku yang
kusukai pun tidak melulu buku berlabel hitam yang berisi buku-buku novel saja.
Akupun menyukai buku-buku psikologi yang berlabel coklat. Entah kenapa, dari
dulu aku tertarik dengan bidang ini. Senang saja mempelajari manusia.
Pikirannya. Pola kehidupannya. Perilaku dan tata cara bersosialisasinya. Dan di
rak buku berlabel coklat ini, aku sedikit banyak mulai memahami bahwa
sepertinya aku tergolong orang yang introvert, yang menurut buku merupakan
orang yang meski tidak selalu membenci sosialisasi, tetapi mereka memang lebih
nyaman menyendiri. Seperti aku.
Selain buku
psikologi, aku juga senang dengan buku bahasa. Aku sering belama-lama berdiri
di jajaran buku bahasa. Pada dasarnya aku tertarik pada semua bahasa. Namun,
aku paling senang dengan Bahasa Jepang. Negeri Sakura itu sudah memikat hatiku
bahkan sebelum aku mengenal anime. Aku senang dengan tradisi mereka, sopan
santun mereka, etos kerja mereka, dan banyak hal lagi mengenai geografis
mereka.
Tetapi, tentu saja buku
novel menjadi buku paling aku minati di antara buku-buku yang lain. Novel tak
selalu harus berbicara tentang cinta. Aku juga belajar banyak hal dari novel. Kebijaksanaan
hidup, keterampilan, kecerdasan, sosok figur, dan hal-hal lain. Aku juga
belajar banyak hal mengenai tata bahasa, pemilihan kata, dan teknik-teknik
“bercerita lewat kata” yang akhirnya menuntunku untuk semakin sering menulis.
Ya, dari buku-buku itu aku pun mulai belajar bagaimana caranya menulis tanpa
banyak teori. Semakin banyak buku yang kubaca, perbendaharaan kataku semakin
melimpah. Meski belum ada satupun perlombaan menulis yang kumenangkan, aku
tetap senang menulis. Aku menulis apapun. Kebanyakan mengenai pengalamanku.
Tulisan-tulisan itu sebagian besar kini dimuat di blog pribadiku.

lihat fotonya sempet takjub kirain blogger cilik..hehehe ternyata ada tambahan keterangan 5 tahun yang lalu :D Sukses terus ya
BalasHapus