Selain membaca buku, rutinitas harianku dulu adalah menulis. Belum lagi waktu itu masih masa-masa sekolah. Ketika catatan adalah segalanya. Aku termasuk orang yang gemar menulis materi waktu itu. Aku biasa menulis kembali materi-materi pelajaran terutama pelajaran yang kusuka seperti sosiologi dan sejarah. Aku juga senang matematika, jadi aku menulis kembali rumus dan contoh soal buatanku sendiri serta penjelasan singkat yang hanya bisa kupahami sendiri.
Mengenang masa-masa itu membuatku ingin mengulang waktu. Lima tahun itu berharga bagiku. Lima tahun membentuk karakter dasar yang ada dalam diriku. Senang membaca. Senang menulis. Dan, oh ya, senang menggambar pula.
Aku dan Penaku.
Dulu, aku gemar
sekali menulis. Hal itu tidak lain adalah berkat banyaknya buku yang kubaca. Ke
mana-mana aku selalu membawa buku bacaan. Istirahat lima belas menit cukup
membuatku hanyut dalam drama, konflik, dan penghayatan novel yang sedang
kubaca. Akhirnya, dari alur cerita yang semakin meliuk, rentetan konflik yang
semakin serius, membuatku jadi gemas ingin membuat cerita buatanku sendiri.
Namun, hingga
kini baru hitungan jari cerita pendek yang kuhasilkan. Setiap kali baru memulai
dua atau tiga halaman, ceritaku selalu buntu. Aku merasa perlu belajar lebih
banyak. Maka aku kembali mendatangi perpustakaan. Mencari novel yang menarik.
Setiap kali aku baru melewati pintu masuk, tempat yang pertama kali wajib
kudatangi adalah rak kecil berisi jajaran buku baru. Tetapi untuk mendapatkan
buku baru yang bagus aku harus datang lebih awal, karena bukan hanya aku saja
penggemar buku di sekolah ini. Terkadang aku beruntung, kadang pula aku harus booking
buku baru yang lebih dulu didapat oleh temanku.
Mengenang masa-masa itu membuatku ingin mengulang waktu. Lima tahun itu berharga bagiku. Lima tahun membentuk karakter dasar yang ada dalam diriku. Senang membaca. Senang menulis. Dan, oh ya, senang menggambar pula.

Komentar
Posting Komentar