Blog AhfieRofi

Catatan AhfieRofi

Aku dan... #3. Gambarku

Hobiku yang lain adalah menggambar. Dan, sekarang, kurasa hobi ini yang paling berkembang di antara hobi-hobi yang lain. Prestasi-prestasi kecil yang kuraih pun kebanyakan dari hobi ini. Dari hobi menggambar ini pula aku mendapat beberapa pesanan entah dari guru, teman, atau orang yang belum aku kenal. Memang belum profesional sih. Dulu saja waktu aku masih sering dimintai gambar oleh guru-guruku, terkadang aku tidak mendapat imbalan materi apapun, meski aku tidak sepenuhnya mengharapkan imbalan. Pernah aku hanya diberi sebungkus biskuit sebagai bayarannya. Tapi imbalan yang paling berkesan dari mereka adalah pensil mekanik. Harganya mungkin tidak seberapa. Tapi klien sekaligus guruku itu juga menyertakan secarik pesan singkat yang menyemangatiku untuk terus menggambar. Sampai sekarang, pensil mekanik itu masih terus kupakai untuk menggambar. ^_^

Gambar.



Ketika aku masih menjadi siswa baru di sekolahku, enam tahun yang lalu, kakak kelas yang awal-awal aku kenal adalah Kak Iyas dan Kak Rudi. Dua sejoli ini memang sahabat karib. Waktu itu mereka berdua masih kelas empat atau kalau diluar kelas dua SMA.

Mungkin, terbentuknya hobi dan kebiasaanku pun tidak lepas dari campur tangan mereka. Kak Iyas amat gemar membaca. Sekilas pun kita bisa mengenali hobi itu dari kacamatanya yang berlensa tebal. Sementara Kak Rudi, pria tinggi besar berkacamata ini amat senang menggambar. Goresannya halus dan hati-hati. Gambarnya yang lebih cenderung ke manga patut dipuji karena memang bagus.

Dua orang ini menjadi teman-teman sekaligus kakak terbaikku selama dua tahun sebelum mereka akhirnya lulus dan melanjutkan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi. Dari mereka aku belajar banyak hal. Dan, ya, soal menggambar itu, mereka selalu mengapresiasi gambarku. Meski waktu itu gambarku jauh lebih buruk daripada sekarang. Tapi mungkin itulah yang membuatku tidak pesimis dan terus menggambar.

Terbukti, di tahun berikutnya aku terkadang menggantikan Kak Rudi menjadi “seniman sekolah” (aku menamainya sendiri, hehe). Karena di tahun berikutnya Kak Rudi sudah harus sibuk mempersiapkan Ujian Nasional dan ujian masuk perguruan tinggi, terkadang aku mendapat tugas mulai menggantikannya membuat cinderamata berupa gambar karikatur untuk tamu atau pembicara seminar-seminar yang diadakan di sekolahku. Sebenarnya ada satu lagi kakak kelasku kelas empat waktu itu, yang jago menggambar juga. Tetapi mungkin terkadang dia sibuk atau malas membuatkan gambar, maka aku yang jadi pilihan terakhir untuk membuat cinderamata tersebut.

Komentar