Gambar.

Ketika aku masih menjadi siswa baru di sekolahku, enam tahun yang lalu, kakak kelas yang awal-awal aku kenal adalah Kak Iyas dan Kak Rudi. Dua sejoli ini memang sahabat karib. Waktu itu mereka berdua masih kelas empat atau kalau diluar kelas dua SMA.
Mungkin, terbentuknya hobi dan kebiasaanku pun tidak lepas dari campur tangan mereka. Kak Iyas amat gemar membaca. Sekilas pun kita bisa mengenali hobi itu dari kacamatanya yang berlensa tebal. Sementara Kak Rudi, pria tinggi besar berkacamata ini amat senang menggambar. Goresannya halus dan hati-hati. Gambarnya yang lebih cenderung ke manga patut dipuji karena memang bagus.
Dua orang ini menjadi teman-teman sekaligus kakak terbaikku selama dua tahun sebelum mereka akhirnya lulus dan melanjutkan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi. Dari mereka aku belajar banyak hal. Dan, ya, soal menggambar itu, mereka selalu mengapresiasi gambarku. Meski waktu itu gambarku jauh lebih buruk daripada sekarang. Tapi mungkin itulah yang membuatku tidak pesimis dan terus menggambar.
Terbukti, di tahun berikutnya aku terkadang menggantikan Kak Rudi menjadi “seniman sekolah” (aku menamainya sendiri, hehe). Karena di tahun berikutnya Kak Rudi sudah harus sibuk mempersiapkan Ujian Nasional dan ujian masuk perguruan tinggi, terkadang aku mendapat tugas mulai menggantikannya membuat cinderamata berupa gambar karikatur untuk tamu atau pembicara seminar-seminar yang diadakan di sekolahku. Sebenarnya ada satu lagi kakak kelasku kelas empat waktu itu, yang jago menggambar juga. Tetapi mungkin terkadang dia sibuk atau malas membuatkan gambar, maka aku yang jadi pilihan terakhir untuk membuat cinderamata tersebut.
Komentar
Posting Komentar